Jumat, 07 Januari 2011

LUKA TERINDAH

Ada luka terindah yang tak bisa aku lupakan sampai saat ini. Luka yang membuatku selalu mengingat pada kisah cinta antara aku dengan Yuni. Yuni adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Dan tempat tinggalnya pun tidak begitu jauh dari rumahku.

Aku mengenal Yuni bermula dari temanku yang mengenalkan aku dengannya. Kami saling bertukar kata pada waktu itu. Aku merasa nyaman berbincang dengannya. Aku adalah orang yang mudah jatuh cinta dan mungkin perasaan ku terlalu cepat dan ku rasa ini tak pantas aku ucapkan bahwa aku jatuh cinta padanya.

Selepas hari itu, aku berkunjung ke rumahnya pada Sabtu malam sehabis aku pulang kerja. Aku pun mengetahui alamatnya dari Yuni yang memang pada hari pertama bertemu Yuni memberikannya padaku. Rumahnya tidak begitu jauh dari tempat kerjaku di Pasar Kemis, Tangerang. Dan ketika aku telah sampai di rumahnya, yang ku dapat yaitu Yuni sedang tidak berada di rumahnya. Lalu aku pun memutuskan untuk segera pulang ke rumahku. Mungkin hari itu adalah hari yang kurang pas untukku. Aku yakin, suatu hari nanti aku menemui Yuni.

Satu Minggu kemudian aku membuat janji dengan Yuni untuk bisa menemuiku. Dan Yuni pun menyanggupinya. Aku menemui Yuni di sebuah warung kecil di sebelah SDN 1 Sukamantri, Pasar Kemis, Tangerang. Aku cukup lama berbincang dengannya pada hari itu.

Ada hal yang membuat ku sedikit kecewa darinya adalah Yuni tidak mau bicara jujur bahwa dia telah memiliki seorang kekasih. Mungkin jika menceritakan hubungan mereka sejak awal, aku pun pasti tidak akan ikut campur dalam cerita cinta mereka. Karena aku lebih baik memilih mundur daripada harus merusak hubungan mereka berdua.

Aku sadar, apa yang aku lakukan dengan terus mendekatinya adalah sesuatu yang tidak pantas. Yuni pun mengetahui perasaan ku terhadapnya. Dan untuk menghargai perasaan ku, dia menjodohkan aku dengan temannya, Adelia. Tapi aku menolak dengan apa yang dia lakukan.

Pada suatu hari, Yuni menceritakan tentang ketidakharmonisan hubungan antara dia dengan kekasihnya. Yuni begitu jujur, dan dia pun menceritakan semua masalahnya pada ku. Dan aku pun selalu memberikan solusi untuknya. Yuni sempat bicara pada ku untuk mengakhiri hubungan mereka. Karena apa yang dia rasa begitu membelenggu di hatinya. Dan tanpa aku tahu, ternyata dia mengakhiri hubungannya.

Tiba pada saat ketika Yuni menelepon ku pada suatu malam sekitar jam sembilan. Aku terkejut ketika dia mengungkapkan isi hatinya pada ku. Dan ternyata dia juga mencintai ku sejak pertama bertemu. Sulit hal ini untuk aku percaya pada waktu  itu, tapi aku merasa ada ketulusan dari semua ucapannya. Dan aku pun menerima cintanya karena aku juga mencintainya. Lalu kami pun memulai hubungan pada tanggal 13 Desember 2008 pada malam itu.

Aku menyempatkan untuk menemuinya bila aku libur kerja. Aku juga pernah mengajaknya ke sebuah acara festival musik di daerah Pakuhaji yang memang aku pun menjadi peserta di acara tersebut. Aku ingin Yuni mendukung ku dan juga band ku, D'Contrast. Dan aku pun juga sempat mendedikasikan lagu yang kami bawakan untuk Yuni. Meski malu tapi aku mengungkapkannya di hadapan penonton. Kenangan manis yang takkan terlupakan saat itu.

Memang tidak selamanya hubungan itu berjalan dengan indah pasti saja selalu ada rintangan yang menghalangi ku, salah satunya adalah orang tuanya. Orang tuanya tidak begitu menyukai hubungan kami. Mungkin, hal yang membuat mereka tidak merestui hubungan kami adalah dari masa lalu yang kelam yang pernah di alami ibunya. Tapi aku pun meyakinkan orang tuanya bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya. Tapi mereka tak menghiraukan dengan apa yang aku ucapkan. Bahkan mereka pun kerap kali memarahi dan melarang Yuni untuk tidak lagi menemuiku.

Aku memaksakan untuk datang menemui Yuni ke rumahnya. Meski pun hal itu tidak begitu diperbolehkan oleh orang tuanya. Tekad ku sudah bulat, dan aku siap menerima resiko apa pun. Ternyata dugaan ku memang benar, orang tuanya memarahi ku habis-habisan. Dan hal yang paling membuat ku sedih adalah ketika orang tuanya memberitahukan ku bahwa Yuni telah dijodohkan dengan pria lain pilihan orang tuanya. Aku ragu dengan ucapan mereka, karena aku yakin bahwa Yuni masih mencintai ku. Dan aku pun beranggapan bahwa itu adalah omongan kosong belaka yang mereka buat untuk menjauhkan aku dengannya.

Beberapa cara telah aku tempuh untuk dapat menemui Yuni. Salah satunya adalah aku pernah menyuruh teman dekat Yuni untuk langsung menemui ke rumahnya, dan menceritakan tentang apa yang aku rasa padanya. Aku juga menitipkan pesan melalui teman dekatnya agar Yuni menemui ku di tempat biasa aku dan Yuni bertemu.

Aku menunggunya di sebuah pantai dan Yuni pun datang menemui ku. Kami membicarakan tentang nasib hubungan kami. Aku pun juga menanyakan kepastian tentang apa yang telah orang tuanya katakan padaku waktu itu. Dan ternyata hal itu pun memang benar adanya.

Jujur, aku tidak bisa menerima kenyataan yang aku alami saat ini. Hati ku hancur berantakan seperti terseret ombak ke lautan lepas. Dengan hati yang tercabik, aku terpaksa mengakhiri hubungan ini.

Setahun kemudian, aku mendengar kabar bahwa sampai sekarang belum ada kepastian tentang perjodohan mereka.

Apakah Yuni sengaja membohongi ku???
Ataukah Yuni pura-pura mencintai ku???
Mungkinkah ini cuma siasat orang tuanya???

                                                                                                *diceritakan oleh:
                                                                                                       ABBIE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar