Senin, 11 September 2017

KUPU-KUPU DAUN JATI

Entah apa yang ada dipikiran kamu, berterbangan setiap waktu lalu hinggap pada mewangian bunga. Sebuah lokasi yang menjadi kegemaranmu, berkerumun dengan sejenismu. Sejenak memecah sunyi dengan tawa cekikikmu lalu lenyap sejenak oleh sedu sedanmu.

Terlalu pandai bermain kata-kata namun engkau lemah saat bersikap. Berprinsip tegas namun tak cerdas membaca keadaan. Aku yang salah berasumsi, atau memang engkau seperti itu adanya.

Pernah aku mengulurkan tangan, lalu engkau hinggap disalah satu jemariku. Tiga puluh menit ku cermati warna sayapmu yang dominan berwarna hitam dan sedikit merah muda. Pada setiap sudutnya ku teliti, pada setiap lekuknya ku pandangi. Lalu setelah itu, engkau terbang kembali pada wewangian yang lain.

Gerak-gerikmu spontan merusak rasa kagum. Engkau melayang pada satu dunia yang memang tak bisa ku tembus batasnya.

Aku pernah berfikir untuk bisa menjadi sejenismu, berterbangan sebebas mungkin meski kebersamaan kita takkan berlangsung lama.

Setelah engkau terbang jauh, aku sukar tuk melupakan yang tersirat dari mataku. Semua terekam diotak. Daya jelajahmu, cara terbangmu, dan bahasa tubuhmu. Semua terlihat mendekati sempurna.

Agak berkecil hati setelah engkau pergi namun aku mengalihkan fokus dan mencoba tuk menghibur diri. Sesuatu yang pernah tersentuh sekejap menghilang. Yang nyata menjadi fiktif dan yang ada berlalu raib.

Setengah jam seakan menjadi selamanya yang akan hilang entah pada kapan waktunya.