Jumat, 10 Juli 2015

YANIS

Sore itu jam 17.49 wib menjelang berbuka puasa, saya mampir di sebuah warung bambu yang berada pada ujung jalan yang terdapat makam di depan pintu masuk gang ! Aku bertanya pada Ibu pemilik warung : "Bu, ini kampung apa ?", lalu si Ibu menjawab : "Ini Encle"

Setelah berbuka puasa di warung itu, aku langsung beranjak ke Mushola tuk tunaikan shalat Maghrib. Dan setelah selesai beribadah, aku kembali ke warung itu dengan maksud membayar makanan yang tadi aku santap saat berbuka. Namun, kini yang menjaga warung itu bukanlah si Ibu tersebut, tapi seorang wanita cantik yang memiliki tahi alat kecil tepat dihidungnya yang kurang mancung, mungkin itu anaknya. Wajahnya cantik dan berhijab, mungkin dia baru saja selesai shalat Maghrib dan mengantikan Ibunya menjaga warung. "Mba, Ibunya kemana yah ? saya mau bayar" tanya saya sambil malu-malu. "Oh,,, Mas tadi makan apa saja ?" jawab si wanita itu. "Nasi, Ikan Asin, Oreg Tempe dan Krupuk, jadi semuanya berapa, mba?" tanyaku. "Semuanya jadi 15.000" jawab dia dengan suaranya yang agak serak. Bergegas langsung ku persiapkan uang yang tersimpan di dompet. "Ini, Mba" sahutku sambil mengarahkan uang 20.000 ke arahnya. "Ini Mas kembaliannya . . " ucap dia sambil memberiku uang 5.000-an. "Terimakasih" sahutku.

Selang 1 menit kami bertransaksi, tiba-tiba muncul dari balik pintu seorang Ibu yang tadi menyuguhkan aku makanan. Dan beliau pun bertanya : "Mas, sudah selesai makannya ?". "Sudah, Bu" jawabku. Dan beliau pun kembali menyahut : "Sudah Mas, tidak usah bayar, anggap saja itu sebagai tanda terimakasih saya pada Mas". "Wah . . . tidak bisa Bu !!! saya tetap harus bayar " sahutku sambil melirik ke arah mata si wanita tadi. Kemudian si wanita tersebut lekas memberikan uang 20.000-an ke si Ibu. "Ini Bu, uangnya !!" ucap si wanita itu. "Ah, kamu Yanis, kamu tidak tau, kalau Mas ini tadi sudah menolong Ibu ?! Dan Mas ini juga tadi yang mengantarkan Ibu pulang ", sahut si Ibu dengan nada yang sedikit tinggi. "Sudah Bu, tidak apa-apa", ucapku dengan maksud merelai percakapan mereka. "Terimakasih ya Bu, Assalamualaikum . . ." sambungku.

Dan waktu terus bergulir, aku lekas membalikkan badan dan pergi. Terdengar olehku jawaban "Waalaikumsalam" dari arah belakang. "Permisi Bu" pamitku sambil menganggukkan kepala.

Dalam perjalanan, mengapa aku terbayangkan wajah Yanis, "Subhanallah, Yanis memang cantik" bisikku dalam hati. Semoga kelak kita bertemu lagi.

Dua hari kemudian, aku kembali mendapat tugas mencari orderan ke daerah Sukawali. Sebuah desa yang berada di ujung Utara Kecamatan Pakuhaji. Saat itu aku tiba jam 15.47, waktu dimana orang-orang pulang bekerja dan bersantai-santai di rumah. Aku berinisiatif untuk sedikit me-refresh otak dengan bersantai sejenak setelah selesai mendapat nanti. Tapi aku belum tau, dimana tempat yang asyik di sini.

Jam 16.34. Setelah semua pekerjaanku selesai, aku segera keluar dari ruko tempat aku mengirim barang. Sore ini angin amat sejuk dan lumayan kencang, maklumlah, ini daerah pesisir. Ketika berada di jalan raya, tampak terlihat banyak remaja asyik berboncengan ke arah kanan persimpangan setelah melewati jalan menurun dari arah jembatan. Di belakang mereka pun ada Ibu-Ibu yang sedang membonceng dua anaknya ke arah yang sama. "Ah, aku ikuti saja mereka" ucapku dalam hati.

Setelah memasuki wilayah itu, serentak ku cium bebauan ikan, hmmm.... aromanya sangat menusuk hidung. Rupanya ini adalah tempat pelelangan ikan. Namun dalam hati masih bertanya "Dimana ujung jalan ini ?". Kemudian, terpampang kalimat penegas di pintu masuk "SELAMAT DATANG DI DERMAGA BARO". Banyak perahu-perahu milik nelayan yang berlabuh, dan dermaga ini pun menjadi jalur alternative ke pulau Tidung. Tempatnya memang sedikit kotor namun banyak orang yang menghabiskan waktu sorenya disini, dari yang berpuasa dan bahkan yang tidak berpuasa sekalipun. Mungkin aku salah tempat untuk dikunjungi, tapi tak apa, terlanjur.

Segudang masalah seolah tumpah setelah tertiup hembusan angin laut. Tapi aku tak berani melihat air pinggiran pantai yang kotor, saat itu airnya sedang surut, jadi sampah-sampah yang terkubur lumpur pun nyata terlihat.

Semakin jauh memandang semakin lama aku menghabiskan waktu di dermaga. Tak sadar ternyata jam tangan sudah menunjukkan jam 17.14, apa cukup waktu sesempit itu mengantarkan aku sampai rumah sebelum Adzan Maghrib. Karena jarak tempuh dari sini ke Pasar Kemis cukup jauh. Sudahlah, daripada mengeluh lebih baik aku jalani saja.

Ketika aku tengah siap beranjak dari pinggiran dermaga, terlihat dari kejauhan di dekat toilet yang tak terpakai sosok wanita berhijab merah marun, cantik sekali dan sepertinya aku pun pernah melihat wajah wanita itu. "Tapi dimana ? Lupa !". Ku coba mendekat dan mata ku tidak berbohong karena aku memang pernah melihat wanita itu. Ku garuk kepala dengan maksud mengingat wanita itu, tapi akhirnya tetap saja, aku memang lupa.

Sepertinya dia mulai curiga karena dari tadi aku terus menatap ke arahnya, dan dia pun mulai memperhatikan gelagat ku. Tapi tak di sangka, dia malah melempar senyum, manis sekali. Respon positif darinya tak akan ku sia-siakan, seolah ada panggilan yang tak terdengar darinya yang menyuruhku untuk menghampirinya yang tengah sendiri berdiri di dekat tiang. Dengan sedikit malu dan berat kaki melangkah, akhirnya aku tiba juga dihadapannya.

Canggung, malu dan gugup melebur jadi satu dalam diri. Dalam lamunan berbisik : "Subhanallah, cantik sekali". Sejenak angan ku pudar ketika dia bertanya ragu : "Mas itu bukannya yang dulu pernah buka puasa di rumah kan ?". "Iya" jawabku. Ternyata dia yang dulu pernah aku temui usai shalat Maghrib di warung Ibunya. Dia masih cantik seperti dulu dan kalau tidak salah namanya Yanis. "Kamu Yanis kan ?" tanyaku dengan bermaksud menegaskan anggapanku. "Iya,,, Mas sedang apa disini ?" tanya Yanis padaku dan dilanjutkan dengan pertanyaannya. "Ngebuburit ?" jawabku dan aku pun kembali bertanya : "Kalau kamu?"

Yanis belum menjawab pertanyaanku tapi dia seperti panik setelah dia melihat ponsel. "Mas, maafnya sudah sore, aku harus pulang,,,, kakak mana sih ?!" ucap dia sambil menegok kanan kiri.

Saat ini Yanis sudah ada dibelakang punggungku, duduk nyaman dalam boncengan motorku. Aku memutuskan untuk mengantarnya pulang, karena kakaknya malah pergi dengan teman-temannya ketika di dermaga. Tak tega aku membiarkan Yanis ditinggal sendiri meski pada senja itu aku berniat untuk pulang.

Setibanya di rumah Yanis, terlihat Ibunya sedang berada di warung. Namun kali ini ada dua orang yang sedang menunggu warung, dan yang satu mungkin itu Ayahnya Yanis. " Assalamualikum" ucapku. "Waalaikumsalam" serentak mereka berdua menjawab salamku. Ku jabat dan ku cium tangan mereka, tanda rasa sopan dan menghormati yang lebih tua. Meski pun aku belum terlalu jauh mengenal mereka.

"Kakak kamu kemana Yanis? Bukankah tadi kamu berangkat berdua ?" tanya ayahnya pada Yanis. "Tidak tau, Ayah ! Yanis ditinggal sendirian di Baro" jawab Yanis dengan nada agak kesal. Disela percakapan mereka berdua, Ibunya menyuruhku masuk dan mempersilahkan aku duduk, tapi aku lebih memilih duduk di bangku depan warung saja, karena saat itu anginnya bertiup sepoy dan menyejukkan aku yang belum mandi.

"Mas ini siapa ?" spontan Ayahnya yang berkumis agak tebal bertanya  padaku. "Saya Reno, Pak !" jawabku. Lalu Ibunya memotong obrolan kami, " Itu, Pak ! yang dulu Ibu cerita, yang tempo hari menolong Ibu". "Ooooh . . . ." sahut Ayahnya. " Sebentar lagi Maghrib, kamu buka puasa disini saja", tawar Ayahnya sambil menepuk-nepuk pelan pundakku.

Isi kepala bergejolak bahwa aku benar-benar ingin pulang. Tak apalah meskipun aku harus buka puasa di jalan, asalkan aku tidak berbuka puasa disini. Namun aku kalah, setelah terdengar lantunan Adzan Maghrib. "Sudaaaah,,,, jangan cuma dilihat, tapi dimakan juga makanannya" sindir Ayahnya padaku.

"Kamu kerja dimana ?" tanya Ayahnya padaku. "Saya Sales, Pak ! Saya menawarkan minuman dingin ke ruko dan warung-warung" tegasku. Yanis dan kedua orang tuanya amat serius menyimak jawaban-jawaban yang aku lontarkan. Kami terlalu banyak mengobrol, sampai lupa bahwa aku belum shalat Maghrib.

Aku pamit pulang pada Pak Hujaeni dan Ibu Fadillah setelah sembahyang Magrib, tapi saat itu aku belum melihat wajah Yanis. "Mungkin dia sedang shalat" pikirku. "Terimakasih yah Pak, Bu, permisi, saya pamit pulang ! Assalamualaikum" lanjutku. "Waalaikumsalam" jawab mereka berdua.

Sesampainya di rumahku di Sindangsari, ku lepas semua pakaian yang sudah kumal dan lekas pergi mandi. Aku memang melewatkan shalat Tarawih tapi tidak aku melewatkan shalat Isya, meskipun di tunaikan tanpa berjamaah. Malam itu di luar rumah terdengar cukup ramai, banyak gelak tawa anak kecil dan bocah yang tengah asyik kegirangan bermain kembang api dan petasan.

Jam 21.00 tepat, ku cek ulang semua hasil kerjaan dan juga jumlah orderan tadi siang. Hanya untuk jaga-jaga supaya tidak ada kesalahan. Belum selesai periksa data dan berkas, ponsel ku berdering tanda ada pesan baru datang. Tampaknya pesan itu berasal dari nomor baru dan berisi pesan :
"Kak, ini Yanis ! Amanat dari Ibu, besok siang Kakak mampir ke warung, Ibu mau order !" setelah selesai membaca, aku malah tersenyum-senyum sendiri.

"In sha Allah, besok Kakak mampir !" balasku pada pesannya. Tanpa berpikir panjang, langsung ku save nomor ponselnya, dalam hati berujar "Alhamdulillah, dapat lagi satu customer . . . ". Tuhan selalu memberi rezeki kepada seseorang tanpa pandang bulu, namun beberapa orang malah lupa dan kufur. Tuhan yang maha Pemberi memberikan sesuatu yang dibutuhkan hambanya tapi bukanlah yang diinginkan hambanya.

Siang hari ketika memasuki puasa ke-17 bulan Ramadhan, langit terlihat sangat terik dan sinarnya seolah membakar kulit, panas sekali. Saat itu aku berada di daerah Teluk Naga. Tepatnya tengah berada di warung agen Pak Tejo, beliau memang langganan ku. Beliau tidak pernah komplain atau pun protes jika barang pesanan telat datang. Telat dalam artian mengulur dari waktu yang telah aku janjikan, karena aku hanya pencatat orderan customer bukan merangkap sekaligus sebagai pengantar barang. Karena itu beda bagian dengan pekerjaanku.

Ketika masih di warung agen Pak Tejo terdengar dering ponsel dari dalam tas. Dan aku kerap sekali menghiraukan panggilan masuk ketika aku sedang berhadapan dengan customer, karena biasanya di saat-saat seperti ini Supervisor-ku selalu menelpon. Karena dia kerap memarahiku dengan alasan yang tidak jelas, dia itu seperti tidak punya kerjaan lain selain memarahiku.

Namun panggilan masuk tadi bukanlah berasal dari Supervisor atau customer yang lain, dan ternyata panggilan itu berasal dari kontak bernama Yanis. Sudah ada empat panggilan tak terjawab yang tercatat di ponsel. Jika itu berasal dari Yanis, mungkin aku bisa langsung menjawab panggilan teleponnya. Namun aku beranggapan lain, aku mengira itu dari Supervisor. Refleks, aku langsung pergi mengejar customer baruku ini, karena menjelang Lebaran, aku pun perlu uang insentif lebih.

Ketika sampai di depan SMPN 3 yang berada di jalan menuju ke rumah Yanis, aku teringat pada satu customer yang tadi aku lewati di Kalibaru. Aku terburu-buru karena demi mengejar satu customer baru dan mengabaikan satu customer lama. "Ah Sudahlah, nanti saja aku datangi setelah pulang dari rumah Yanis" gumamku di perjalanan. Tapi tetap saja, hati ini seolah memikul satu beban.

Setibanya di depan gang menuju rumah Yanis, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang belum aku rasa jika menghadapi customer baru. Biasanya aku selalu percaya diri namun untuk kali ini, aku seperti akan menjumpai ribuan orang dan aku akan berdiri berorasi di depan mereka. Padahal yang akan aku temui hanyalah Ibu Fadillah dan Yanis. Dua sosok yang pernah aku temui sebelumnya. Gemetar, iya aku merasakan tubuhku bergemetaran. "Ayo Reno !!! Kamu bisa !"

Setelah selesai menempuh rasa ketidakpercayaan diri, akhirnya, aku paksakan melangkah menuju di depan Warung Ibu Fadillah. Yapz,,, seorang yang ada di warung bukanlah Ibu Fadillah, tapi Yanis. Mendadak, gelora api semangat membakar rasa kegugupan yang tadi melanda. "Assalamualaikum" ku ucap tanpa ragu. dan Yanis pun langsung menjawab salam ku di ikuti sebuah pertanyaan : " Waalaikumsalam, Kak ! Mengapa tadi Yanis telepon tidak Kakak jawab?". "Oh, tadi Kakak sedang bersama customer" jawabku. "Terus Ibunya dimana ?" tanyaku. "Ibu pergi sama Bapak, Kakak disuruh menunggu sebentar, karena Ibu tidak akan pergi lama" jawab Yanis. "Wah repot juga !" sahutku dengan nada minor. "Mengapa repot?" tanya Yanis yang ternyata mendengar ucapanku. "Yanis kerja dimana ?" tanyaku dengan maksud mengalihkan pembicaraan. "Di Broco" jawabnya. "Mengapa bisa? kan jauh. Bukannya orang sini itu lebih dominan kerja di Salembaran ?" tanyaku seolah tak percaya. "Terus, kenapa sekarang tidak kerja?" tanyaku lagi. "Sekarang Yanis sif 3 Kak" jawab Yanis sambil mengacungkan tiga jariya. "Yanis berangkat sendiri?" tanyaku kembali. "Kalau kerja pagi biasanya Yanis berangkat sendiri, sif 2 dan sif 3 diantar jemput sama Kakak" jawab Yanis dengan tegasnya.

Sampai 10 menit kami bercakap-cakap, tibalah orang yang aku tunggu, Ibu Fadillah. Ku ucapkan Assalamualaikum sambil mencium tangan Ayah dan Ibunya yang baru saja datang. "Eh Reno, sudah lama?" tanya Ayahnya padaku. "Belum Pak, baru saja saya datang" jawabku. "Ini, Reno ! Ibu mau order, semua daftarnya ada disini, bisa kan ?" ucap Ibu Fadillah sambil memberikanku secarik kertas yang dia ambil dari laci meja warung.

Aku raih kertas itu dan dengan segera mencatat orderan yang ada di daftar. Cukup banyak yang diorder, mungkin Ibu Fadillah akan membuat stok menjelang Lebaran. Mereka bertiga hanya memandangi cara aku kerja. Sebuah pekerjaan yang simpel tapi butuh tanggung jawab yang besar. "Jadi, besok Ibu tunggu di rumah, nanti akan datang driver kami yang akan mengantarkan orderan Ibu. Ingat yah Bu, jangan beri mereka sepeser pun jika mereka minta upah. Tapi jika mereka memaksa, tolong Ibu catat plat nomor mobilnya, agar nanti saya bisa tindak lanjuti ke atasan saya".

Aku bergegas menuju pulang setelah Ibu Fadillah memberikan ku uang orderannya. Pamit pada mereka bertiga sambil ucap terimakasih. Hari ini mungkin sudah cukup untuk berada di rumah Yanis, aku tak mau lagi berlama-lama di rumahnya. Karena aku takut merepotkan. Sedangkan aku pun masih punya satu customer yang belum aku datangi di Kalibaru. Meski pun aku harus melewati lagi jalan yang tadi aku lalui, tapi inilah resiko perkerjaanku sebagai Sales.

Cara ku mengirim laporan hasil kerja memang praktis, hanya cukup mengirim inputan via email ke Supervisor. Jadi aku tak perlu balik lagi ke kantor pusat. Jika semua warung atau ruko yang menjadi garapanku telah semua aku kunjungi. Aku bisa langsung pulang meski hari masih siang dan panjang. Namun sialnya jika aku benar-benar terjepit dikejar-kejar oleh target, aku bisa saja pulang sampai larut malam.

Tak terasa, hari menjelang Magrib. Untungnya aku sudah berada di rumah menyambut waktu berbuka puasa. Iseng-iseng aku mainkan ponsel, masih belum terhapus semua daftar panggilan masuk dan panggilan tak terjawab. Ada nama yang sepertinya lebih menantang, Yanis. Aku ingin sekali banyak tau tentangnya, namun aku tak berani menelpon.

Sebuah nama yang aku pikirkan, tiba-tiba mengirim pesan pendek : "Selamat berbuka puasa yah, Kak". Yanis muncul disaat yang tepat. Waktu dimana aku merindukannya. Namun, perasaan yang aku alami saat ini mungkin salah. Dia belum tau tentang statusku yang telah memiliki istri dan satu putra. "Apa aku harus menjawab jujur jika suatu waktu dia bertanya tentang hal itu ? Tentu saja aku berdosa jika membohongi keduanya. Tuhan, jika rindu ini salah, maka jangan temukan aku lagi dengan Yanis !" ucapku dalam hati.

BEGOVIC CHELSEA


Kamis, 09 Juli 2015

ASMIR VAN GINKEL


LAMPARD


DEFENDER


LAMPARD LAMPARD LAMPARD


KRIBO


ASH. COLE


THORGAN HAZARD


MOU


NIRUNYANA



CHARLES ARANGUIZ


ZOUMA


TRY TO FLY



ANYONE CAN PLAY GUITAR


Sabtu, 04 Juli 2015

SURAT TERBUKA PETR CECH UNTUK FANS CHELSEA

Saya pikir ini tidak akan pernah terjadi, tapi sekarang adalah saatnya bagi saya mengucapkan selamat tinggal kepada Chelsea: klub yang telah bersama saya sejak bulan Juli 2004, klub di mana saya berpikir akan gantung sarung tangan dan sepatu pada akhir karir. Tapi hidup tidak selalu seperti yang anda pikirkan

Ini adalah perjalanan yang luar biasa dengan begitu banyak kemenangan dan tak terlalu banyak kalah. Kami berhasil memenangkan semua trofi di Inggris, Liga Europa, dan liga terbesar dari semua - Liga Champions. Melihat kembali semua prestasi, termasuk double pada tahun 2010, lebih jauh juara pada tahun 2005 dan 2006, dan beberapa gelar juara Premier League dan Piala FA. Saya tidak bisa lebih bangga lagi. Sebagai sebuah tim, kami membuat sejarah bersama-sama.

Musim panas lalu, keadaan berubah dan saya tak lagi menjadi kiper pilihan pertama, tapi saya masih merasa bukan waktu yang tepat untuk pergi. Selama musim itu, saya jadi sadar bahwa situasi tak akan membaik, karena saya tahu saya tidak pada tahap karir terbaik saya jika saya terus berada di bangku cadangan. Maka saya membuat keputusan untuk pindah dan mencari tantangan baru.

Waktu main yang terbatas memberi saya kesempatan untuk menyegarkan dan beristirahat secara mental serta membuat saya menyadari betapa saya menikmati bisa bermain sepakbola di level tertinggi, karena saya sangat rindu semua pertandingan di mana saya tidak terlibat.

Saya memiliki komitmen yang sama untuk sepakbola, motivasi sama, dan kelaparan yang sama untuk sukses seperti yang saya miliki di awal karir. Saya suka tantangan diberikan pemain berkualitas yang anda hadapi di Liga Premier League: liga terbaik dan liga paling menantang di dunia.

Itu sebabnya saya berbicara dengan Mr Abramovich tentang keinginan saya tetap tinggal di Liga Premier, dan saya ingin berterima kasih padanya dari lubuk hati atas dukungannya dalam hal ini. Ini berarti sangat besar bagi saya, karena tanpa dia Chelsea entah jadi apa. Dia pantas mendapatkan segalanya atas apa yang diberikan pada klub dan untuk kami semua.

Secara pribadi ingin berterima kasih pada semua orang di Chelsea atas semua dukung--semua pemain, staff, manajer, dan staf pelatih di mana saya sangat bahagia bersamanya selama beberapa tahun ini. Tanpa mereka sangat tidak mungkin mencapai sukses seperti ini.

Tapi yang paling penting dari semunya--terima kasih banyak untuk pendukung Chelsea. Saya memberikan segalanya untuk kalian dan kalian membalasnya dengan cinta. Saya tak akan melupakannya. Itu akan selalu bersama saya selamanya. Kita akan berjumpa lagi tapi sekarang saya ingin mengejar cita-cita saya yang lain. Saya berharap kalian ingat sejarah kita dan mengerti bahwa saya ingin mengawali petualangan baru.

Saya berharap semua orang di Chelsea menjalani yang terbaik pada musim baru dan musim selanjutnya. Terima kasih atas 11 tahun yang luar biasa.

LOIC REMY


Kamis, 02 Juli 2015

WELCOME FALCAO


RAISA CHELSEA


ONE CHELSEA DIRECTION


GOODBYE, BLUES !!!


TANGERANG DIGOYANG



DIDIER DROGBA FOUNDATION


NGEBUBURIT



LEGEND SEVENFOLD


CHELSEA TRANSFER


CECH TO ARSENAL


SHARK ATTACK


A HERO WILL RISE


RAUL MEIRELLES


Senin, 22 Juni 2015

NGISING


BIG CECH


NOMOR 9


CHARLIE AUSTIN


ONE MAN CLUB


KUSUT


NIZAM DAN ADIT



LOE GUE FRIEND


FLY


JADWAL BARCLAYS PREMIER LEAGUE 2015/2016


JADWAL BARCLAYS PREMIER LEAGUE 2014/2015