Sabtu, 23 November 2013

JALAN KWITANG KINI SUDAH BEBAS PEDAGANG BUKU

Kecamatan : Senen
Kelurahan : Kwitang
Kegiatan : Penataan K-5

Berlokasi di kawasan Segi Tiga Emas Senen, keberadaan PKL Buku Bekas di Jalan Kwitang, sudah lama membuat gerah Pemerintah Kota Jakarta Pusat. Pasalnya, PKL tidak saja menguasai trotoar yang menjadi milik pejalan kaki. Tapi sudah berani menggelar buku-buku dagangan mereka ke tengah jalan.

Muara Jalan Kwitang tersumpal. Akibatnya berantai, kemacetan tidak saja terjadi di Kwitang. Melainkan sampai jauh ke Jalan Kramat Raya dan bahkan Salemba. Keadaan itu tidak bisa dibiarkan terus. Kepentingan publik jadi terganggu, kata Sylviana Murni, Walikota Jakarta Pusat.

Kepada Hidayatullah, Camat Senen dan Muchlis, Lurah Kwitang, Sylvi kemudian meminta kedua pejabat itu berkoordinasi dengan Kasudin Tramtib Jakarta Pusat untuk melakukan penertiban. Instruksi Sylvi, seperti yang kemudian diungkapkan Hidayatullah kepada Pelita, sangat jelas, penertiban harus tuntas.

Apa artinya?. Maksudnya, setelah dilakukan penertiban, PKL buku tidak boleh lagi kembali berjualan di tempat itu, kata Hidayat.

Selama belasan tahun ini, PKL buku Kwitang sudah berulangkali ditertibkan. Tapi setiap kali selesai penertiban, setiap kali pula PKL kembali. Sylvi bisa memahami hal itu karena bursa buku bekas Kwitang sudah terlanjur kondang. Banyak pelajar dan mahasiswa merasa terbantu karena mudah mencari buku di situ. Namun Sylvi jadi gusar karena selain aktivitas PKL itu sudah sangat mengganggu kelancaran lalu lintas, juga dia menemukan fakta, banyak buku baru yang dijual di situ. Sumbernya dari toko-toko buku. Bahkan ada yang didrop langsung dari percetakan.

Fakta itu membuktikan bahwa PKL buku di Kwitang bukan PKL biasa. Paling tidak, lokasi itu sudah dimanfaatkan oleh oknum-oknum pedagang yang secara finansial sebenarnya mampu membeli atau menyewa toko. Sylvi pun menjatuhkan vonis : gusur!

Itulah yang dilakukan Hidayat dan Muhlis. Dengan dukungan penuh dari walikota yang menurunkan lebih dari 300 petugas Tramtib, seratusan PKL Buku Kwitang diminta angkat kaki. Sebelum tindakan penataan, dengan arahan dari camat, kami sudah melakukan sosialisasi sesuai dengan prosedur yang berlaku, kata Muhlis.

Dari catatan Muhlis, ada 130 lapak PKL buku yang menggelar dagangan di Jalan Kwitang itu. Dari jumlah tersebut, 80 diantaranya memilih pindah ke lantai IV Proyek Senen dan 50 lainnya ke JaCC Kebon Melati, Tanah Abang.

Ini sesuai dengan arahan walikota yang menginginkan PKL buku itu ditempatkan di Pusat Perdagangan. Pilihan lokasi tersebut tidak lain adalah untuk membantu para PKL berada di lokasi yang mudah didatangi konsumen. Sekarang Jalan Kwitang sudah bebas PKL buku, kata Hidayat, sang camat.

Keterangan Hidayat terkesan terlambat. Bukankah tindakan penertiban sudah terjadi sejak September lalu?. Benar. Kalau penegasannya baru sekarang saya kemukakan, karena penertiban di Kwitang sudah bisa saya katakan tuntas. Tidak ada lagi PKL yang kembali. Petugas juga telah kami tarik, meski lokasi eks PKL itu terus kami pantau, katanya.

Selama ini, PKL memang selalu kembali. Agar tidak kembali, Pemerintah Kota Jakarta Pusat memantek puluhan petugas tramtib paska penertiban di lokasi yang telah dibebaskan.. Tidak dalam hitungan hari atau minggu. Tapi berbulan-bulan. Warga Kwitang juga memberikan dukungan, antaralain, dengan memasang spanduk yang berisi pernyataan terimakasih kepada walikota yang telah membebaskan Jalan Kwitang dari aktivitas PKL.

Karena terus menerus diawasi tramtib, beberapa pedagang yang awalnya main kucing-kucingan dengan petugas, akhirnya merasa rugi sendiri tidak bisa berjualan. Satu per satu dari mereka akhirnya bersedia menempati Lantai IV Proyek Senen dan JaCC Kebon Melati.
Kepada Pelita, Syafri menegaskan bahwa dia dan sejumlah temannya sudah bisa menerima kebijakan walikota yang merelokasi mereka ke Senen. Hanya saja, Syafri meminta kebijakan penataan tidak hanya dialamatkan pada para PKL Buku Kwitang. Tapi juga pada para PKL Buku di Terminal Senen. Syafri menilai, keberadaan PKL Buku di Terminal menjadi salah satu sebab pembeli enggan naik ke lantai IV. Tolong hal ini disampaikan juga ke walikota, kata Syafri yang diikuti anggukan kepala oleh teman-temannya.

Selain mempermasalahkan PKL Buku di Terminal, para PKL di lantai IV itu juga meminta Pemerintah Kota Jakarta Pusat mempromosikan keberadaan mereka di lantai IV. Misalnya membantu memasang spanduk yang lebih banyak yang isinya mewartakan perdagangan buku di Kwitang pindah ke lantai IV Pusat Perdagangan Senen.

Sylviana Murni, Walikota Jakarta Pusat, merespon secara positif harapan Syafri cs. Menurut Sylvi, penataan di Senen tidak hanya berhenti pada penataan PKL Buku di Kwitang atau PKL makanan dan minuman di Jalan Diponegoro dan Salemba. Tapi akan dilakukan menyeluruh.
Tentang PKL Buku di Terminal, itu nanti akan kita koordinasikan dengan pihak pengelola terminal. Itu sudah saya agendakan. Kajian akan dilakukan secara menyeluruh dan tentu tidak hanya PKL Buku, kata Sylvi.

Dibanding di Kwitang, di sini (Senen) masih sepi. Tapi mudahan keadaan ini (sepi pembeli) tidak berlangsung lama, kata Syafri, eks PKL Kwitang yang pindah ke Proyek Senen.

CINTA TAPI TAKUT


Kosong, kehidupanku berasa kosong sejak aku meninggalkan Nurul. Tak ada lagi wanita yang selalu mengingatkan aku untuk segera menunaikan shalat Magrib ketika adzan bergema.  Aku pergi meninggalkan Nurul pada 13 November lalu. Karena suatu alasan, aku memilih pergi.

Sabtu sore, ketika aku duduk di teras rumahku sambil membaca buku autobiography tentang Sir Alex Ferguson, aku kedatangan tamu dengan mengenakan celana hitam dan kaos putih yang agak sedikit lusuh.  Dan tamu itu adalah teman lama sekaligus sahabatku, namanya Ale. Dan Ale adalah sahabat ku semenjak di aku tinggal di Bandung. Entah dari siapa Ale mengetahui alamat baruku di Jakarta.

Ale bukan hanya sekedar sahabat, tapi dia melebihi dari itu, ku anggapnya sebagai kakakku meskipun umur kami hanya terpaut dua hari. Kami telah banyak meluangkan waktu bersama. Bukan hanya sekedar makan satu porsi nasi bungkus bersama-sama. Bahkan bisa lebih dari itu. Ale sangat mengerti dengan keadaanku yang susah. Aku sangat gembira saat dia mau berkunjung ke rumahku di bilangan Jakarta. Lepas dari itu, kami mulai berbincang tentang segala hal hingga pertandingan antara Everton vs Liverpool berakhirpun kami belum selesai mengobrol. Mulai memasuki jam 23.26 wib, Ale mulai menanyakan tentang kisah asmara yang aku alami saat ini. Aku menjawab pertanyaan itu dengan jawaban: "Tidak, aku tidak sedang berpacaran dengan siapapun saat ini". "Wow !!! apakah kamu masih menyesal dan merasa bersalah karena meninggalkan Nurul ?" tanya Ale. Sejenak terhenti lalu aku terdiam dan hanya ada suara jarum jam dinding yang mengalun. Dan seakan aku tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ale saat itu.

"Jujur, aku masih merasa kesepian sejak meninggalkan Nurul. Aku mencintainya, tapi aku takut melukainya" jawabku pada pertanyaan Ale. "Percuma jika sampai saat ini kau masih mengharapkan Nurul..." sahut Ale. " Maksudmu, Le ?" tanyaku."Aku sengaja datang kesini karena tadi siang aku menghadiri undangan resepsi perkawinan Nurul di rumah Suaminya di Temanggung. Karena jaraknya tak begitu jauh dari tempat tinggalmu, maka aku menyempatkan mampir kesini", tegas Ale. " Lantas, darimana kamu tau kalau aku tinggal di Menteng ?" tanyaku kembali. "Aku tau alamat lengkapmu dari pak Cahya" jawab Ale.

Aku tak tau harus apa! apakah aku harus sedih ataukah bahagia mendengar pernyataan Ale yang menceritakan tentang resepsi Nurul yang berlangsung tadi siang. Dan mengapa Nurul begitu cepat memutuskan untuk segera menikah sementara aku baru meninggalkannya 10 hari yang lalu. Aku tau betul tentang apa yang ada pada pikiran Nurul, dan mana mungkin dia bisa secepat itu membuat keputusan.  Dan yang aku tau, tak ada lagi pria yang mencoba memiliki hati Nurul ketika kami berhubungan. Nurul sempat mengucapkan kata sakral padaku bahwa dia takkan pernah mau hidup dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya. Dan dia pun takkan bisa melupakan kata sakral dalam waktu yang singkat.

Tapi, ah sudahlah !!! aku mengantuk, dan Ale pun sudah tak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka. Mungkin ini adalah kesalahan yang menjadi bumerang untukku sendiri karena tak pernah menghargai orang yang telah menyayangiku.

Minggu pagi, sekarang jam 08.49 wib. Ale pamit pulang padaku dan aku hanya bisa mengantarkannya sampai terminal. Karena dia harus segera kembali lagi ke Bandung. Menghabiskan satu malam bersama Ale aku jadi kangen pada saat-saat aku masih suka menginap di rumahnya di Pasteur.

Ku lanjutkan langkahku hari ini sehabis berpisah dengan Ale, aku berencana membeli buku di JaCC Kebon Melati Tanah Abang. "Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang" sebuah buku yang sudah aku niatkan untuk membelinya karena buku ini adalah buku yang terlambat aku miliki.

Matahari seakan murka, aku di cambuk oleh panasnya yang melukai kulit. Tenggorokanku merindukan air dingin yang seolah belum menyegarkan kesatnya bibir.


Bersambung.......

Jumat, 25 Oktober 2013

NURUL & FAUZI



Langit hari ini cukup ceria. Dan kali ini aku tak seperti langit. Aku bosan dengan hari-hari, karena selalu saja ditaburi kisah kepiluan yang akhir-akhir ini kerap ditiru para penulis skenario sinetron. Aku sungguh jenuh dengan tuduhan “si tolol” atau “si goblok” atau apapun yang terdengar seperti suara Neraka. Aku ingin lari ke masa dimana manusia masih beradab, biarpun aku harus berangkat ke masa lampau yang lugu dan liar. Asal jangan kirim aku ke tempat seperti dunia yang sekarang ini !
“Oh jagad raya, ingin ku sapa engkau dengan manis, namun belum juga ku rangkai lengkung bibirku, kau sudah palingkan wajah sambil melempar granat panas dan bara api ke arahku”. Sungguh aku bingung harus melakukan apa. Seingat aku, sungguh aku sudah mengikuti alur yang Tuhan tunjukkan. Aku selalu dengar dengan khidmat ketika Pak Abdul melantunkan adzan lima kali sehari. Aku tau harus harus melakukan apa setelah mendengar kalimat “ Hayya Ala Sholah ”. Aku juga tau, apa yang harus aku lakukan ketika melihat seorang anak lusuh memohon sedekah untuk makan siang di jalanan yang penuh dengan anjing dan debu. Aku rasa, aku juga tau cara tersenyum dan bergaul dengan baik pada sesama ataupun orang tua. Bahkan aku mengerti kapan aku harus ikut tersenyum atau harus berbagi tangis. Aku tau semua itu.
Detik yang menghantam perasaan. Detik ini adalah salah satu detik yang tersakit bagiku. Saat Ayah memaksa adikku (Fauziah) masuk ke kamarnya, dan merampas kesuciannya dengan ditemani setan yang bertaring tajam. Adakah yang lebih dari kata sedih. Hancur. Padahal, aku masih ingat ketika Ayah berpesan, “ Fauzi, usahakan sembahyang tahajjud setiap malam, agar Tuhan menjauhkan kita dari perbuatan nista. Dan hati-hati ketika kau bergaul dengan teman-temanmu ! Akhlak baikmu harus kau  jadikan pelindung,. Bukan topeng semata, agar setiap orang memaknai dirimu”. Dan bagiku, kata-kata itu tetap mutiara. Namun Ayah, adalah tempat kotor yang lebih-lebih dari tumpukan sampah dan bangkai babi hutan. Ayah yang berbudi binatang.
Biarkan aku balut luka luka-luka Fauziah, walaupun tak ada satupun perban yang mampu mengeringkannya. Biarlah aku coba kecup keningnya, meski tak sehangat masa indahnya seminggu yang lalu. Biarlah aku coba hapus memorinya, tentang bejatnya 10 Oktober itu ! Adikku sayang, bintang mana yang kau mau? Akan ku petik utuh untuhmu.
Tiga hari berlalu, dengan mata bengkakku. Dengan wajah pucat Fauziah. Dengan kemurkaan Tuhan entah pada siapa. Dan aku mulai sulit menangis setelah ibu jarang berada di rumah. Dan ketika mulai menemukan kata-kata janggal di telepon genggam milik Ibu. To : Mas Rio, “ Habis pulsa ya sayang ?  Suamiku di penjara… tapi baguslah, meski dia disini tetap saja tak ada uang. Nanti aku ke tempatmu lagi. Aku rindu bercinta”. Sungguh betapa birahi adalah raja. Betapa uang adalah cinta. Aku tak bisa lagi menangis, meski dada terasa penuh sesak dan tenggorokan seakan ditekan baja. Biarlah Tuhan yang menjadi orang tua kami. Tak perlu dia, tak perlu mereka.
Fauziah adikku sayang. Berbalut kebaya putih. Rambutnya ikal disanggul, sungguh menawan. Adikku tampaknya cantik dan suci. Karena yang kotor adalah yang mengotorinya ! Bukan adikku sayang. Mereka bersanding di pelaminan berhiaskan bunga-bunga melati yang berkalung di leher. Harum semerbak, seharum cinta dan kebahagiaan. Ihsan sang pemuda baik hati duduk disamping malaikat cantikku. Pemuda itu tulus mencintai Fauziah. Terima kasih Tuhan, Fauziah tak lagi kedinginan.
Fauziah dan Ihsan pergi. Mereka memulai hidup barunya di tempat yang jauh dariku. Fauziah tinggalkan aku disini sendiri. “ Semoga bahagia disana, kelak jika menjadi seorang Ibu dan Ayah, jadilah yang terbaik”, mataku merah berkaca.
“Kak Fauzi, Fauziah yakin Kakak mampu meski sendiri disini. Yang Fauziah tau, Kaka adalah satu-satunya pria paling tangguh yang Fauziah kenal. Fauziah sayang Kakak”, kami berpelukan. Mungkin pelukan paling hangat dan erat sedunia.
Dan dua tahun sudah, Fauziah jauh dariku. Tapi aku bahagia, karena Fauziah dan Ihsan telah dianugerahi putri cantik. Sering sekali aku dan Fauziah berkirim surat. Meski jauh, tapi hati kami dekat. Sangat dekat…
Jum’at pagi adalah jadwalku bertemu Pak Cahya. Aku berlari sekencang-kencangnya. Nafas memburu. Keringat menetes satu demi satu. Pagi itu, aku mengejar bis kota yang memang jarang melintas. Armadanya sedikit, tapi peminatnya sangat banyak. Bis kota memang angkutan yang paling murah. Aku tinggal menyodorkan uang Rp. 1.500,- untuk sampai ke ujung jalan Soekarno-Hatta. Daerah Elang tepatnya. Sampailah aku ditempat tujuan. Di hadapanku terpampang spanduk bertuliskan “Waroeng Seni Pak Tjahja”. Aku memang pecinta seni. Untuk makan sehari-hari  dan untuk sekedar membeli sabun cuci, aku menjual berupa seni lukisan dan tulisan. Aku sering membuat lukisan abstrak dan tulisan-tulisan dongeng kehidupan. Aku melukiskan kenyataan. Aku menceritakan kenyataan.
Di warung seni itu, aku sering bertukar pikiran dengan Pak Cahya. Seorang seniman sederhana yang bersahaja. Aku selalu berdiskusi tentang karya-karyaku yang aku anggap sungguh masih sangat amatir. Kami sering berdiskusi tentang kehidupan, alam semesta, kesulitan, kebahagiaan, hingga cinta kasih sayang. “Apa kau telah temukan cinta sejatimu, Nak ?”, Pak Cahya menatapku curiga. Aku tersentak ! Cinta ? aku lupa dengan kata itu. Aku terlalu acuh. Aku baru menyadari, mengapa aku selalu merasa tidak lengkap. Aku merasa selalu ada sesuatu yang hilang. Kosong. Tapi apa benar cinta ? Aku terbingung-bingung. Apa aku pernah jatuh cinta??? Aku lupa!
Oh, empat tahun lalu aku memang pernah berpacaran. Meski sesungguhnya aku sangat benci bermain hati dan perasaan dengan makhluk yang bergelar perempuan. Wanita itu bernama Aisyah. Lima bulan berpacaran, aku memutuskan untuk menyelesaikan hubungan. Aku merasa Aisyah terlalu manja dan memaksa. Aku tidak punya banyak waktu untuk selalu menemaninya. Untuk setiap hari mengusap rambut panjangnya. Untuk setiap saat mengecup keningnya. Aisyah memang baik, namun ia tak mengerti betapa aku tak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Betapa aku tak suka berleha-leha. Aku harus mencari uang. Untuk makan. Tapi terimakasih Aisyah, kau telah ikut mewarnai cerita sejarah hidupku.
Satu tahun setelah Aisyah. Aku memang pernah dekat dengan Nina. Kami berkenalan ketika aku dan teman-teman sedang menonton pertandingan sepak bola di Stadion Si Jalak Harupat. Saat itu pertandingan antara Persib melawan Persela Lamongan. Nina adalah seorang Ladies Viking, tubuhnya tinggi, kulitnya pun putih. Aku mengenalnya setelah aku tak sengaja menarik tangannya untuk menghindari dia dari kerimunan massa yang brutal. Nina sangat baik, dan sempat mengisi hari-hariku yang terasa hampa. Ketika pertama mengenalnya, Nina terlihat seperti wanita yang sangat sempurna. Tapi sayangnya, ketika hubungan kita menjadi lebih jauh ternyata Nina tidak bisa menerima semua yang telah menjadi prinsipku. Bukan aku munafik, tapi aku tidak suka pada wanita yang tidak paham batas-batas cinta dan buta akan etika saat berpacaran. Aku bukan pria yang mau berselimut berduaan, dengan wanita yang belum menjadi istriku. Dan terimakasih Nina, kau juga telah mewarnai cerita hidupku.
Dan terakhir, 6 bulan yang lalu. Aku bertemu wanita bernama Tia di sebuah base camp pencinta alam (PA). Tia sangat ramah. Wanita itu begitu sopan dan cerdas. Mungkin dalam pandangannya aku begitu baik, sehingga Tia mulai mendekatiku setelah beberapa Minggu kami saling mengenal. Sebenarnya aku bukan pria yang mudah jatuh cinta, tapi satu-satunya alasan menerima Tia adalah aku ingin disayangi. Dunia… Aku belum mati ! Aku ingin ada manusia yang menganggap aku istimewa. Aku ingin dianggap ada. Tapi sayangnya hubungan kami hanya bertahan sembilan belas hari. Pada suatu malam yang remang di salah satu kamar base camp PA, aku melihat Tia sedang bercumbu mesra setengah telanjang dengan pria yang entah siapa. Maaf Tia, mungkin aku tak bisa memenuhi hasratmu. Dan terimakasih, kau pun telah ikut mewarnai lembaran hidupku.
“Begitulah kisahku, Pak”. Dari sekian wanita yang aku kenal belum ada yang benar-benar aku cintai. Masalah berbeda kebiasaan dan berbeda pendapat, aku masih bisa maklumi. Tapi jika masalah yang berkaitan dengan masalah penghargaan terhadap kehidupan, aku tak bisa terima.! Aku takut membenci perempuan, Pak. Dan aku takut tak pernah mau lagi menjalin hubungan dengan perempuan”. Aku tertunduk lelah.
“Kamu tunggu saja. Dia pasti ada…” Pak Cahya tersenyum begitu hangat. Aku langsung terinspirasi untuk melukiskan senyuman di kanvas. Aku ikut tersenyum seraya pamit. Waktunya shalat Jum’at untuk yang mengamalkan.
Jum’at pagi datang lagi. Kali ini aku tidak kemana-mana. Aku sibuk mencorat-coret kanvas. Memuntahkan isi kepala. Lagi-lagi warna gelap yang tergores disana, sehingga terkesan klasik. Lukisanku jarang sekali berwarna-warni. Entahlah apa sebabnya, aku sendiri belum tau.
Pagi itu, aku masih menunggu. Menunggu “cinta”, aku memang bukan pria manja atau manusia yang hanya bisa menggantungkan hidup pada orang lain. Tapi bukankah semua manusia di muka bumi butuh cinta. Butuh orang yang dirinya istimewa. Bukan begitu ?
Aku berusaha membuka diri. Meski sesungguhnya sangat sulit sekali. Tapi aku butuh cinta ! Aku ingin sekali disayangi ! Salahkah aku ?
“Fauzi…, nama yang sederhana. Sudah lama aku tak mendengar nama itu”, Nurul tersenyum menatapku. Matanya ramah dan teduh memakai softlens birunya. Entah mengapa, aku merasa tenang berada di sampingnya. Dan sedikit gugup. Aku aneh, tak seperti biasanya.
Aku mengenal Nurul sebulan lalu. Tanpa sengaja kami berkenalan saat bertemu disebuah sanggar seni. Ternyata, Nurul adalah teman dari sahabatku sendiri, Ale. Hubungan kami semakin dekat. Apalagi setelah Ale mengetahui aku mengenal Nurul.
Kami semakin akrab saja. Banyak kesamaan yang aku rasakan bersama Nurul. Kami sama-sama menyukai seni meskipun berbeda aliran. Diskusi kami hangat dan padat. Kami sama-sama menyukai musik dan sepak bola. Dan kami sama-sama orang aneh.
Tiba-tiba, aku merasa sesuatu yang asing memenuhi jiwaku. Aku merasa ada yang hilang jika sehari saja tak mendengar nama Nurul. Aku merasa ada yang kurang jika sehari saja memikirkan nama Nurul. Ah, apakah ini berlebihan ? Mengapa aku merasa nyaman jika berada di dekat Nurul. Mengapa setiap saat aku selalu rindu suara Nurul !?. Mengapa ? tak biasanya perasaanku seperti ini terhadap perempuan.
Nurul yang aku kenal adalah sosok wanita yang menghargai hidup. Sosok wanita yang pengertian, supel, penyayang, cerdas, menyenangkan dan enerjik. Meski Nurul sama sepertiku. Kami sama-sama tidak mempunyai tempat yang cukup hangat. Tidak mempunyai sosok yang mengayomi kami setiap saat. Hanya Tuhan yang menghangatkan kami. Mungkin, hal itu yang menyebabkan kami sepaham. Kami saling mengerti. Terimakasih Tuhan.
Aku baru menyadari, ternyata Nurul pun merasakan hal yang sama. Nurul terang-terangan mengutarakan konflik perasaannya padaku. Kata Nurul, kesimpulannya adalah cinta. “Nurul Cinta Fauzi”, kalimat itu menusuk perlahan. Meski masih ragu, tapi sang yakin berperan lebih dominan. Akhirnya, aku menyambut Nurul. Tuhan, jaga kami…           
Lima puluh hari yang indah ! Aku sebagai kekasih Nurul hanya sebulan dua puluh hari saja. Ternyata keadaan harus memisahkan kami. Aku merasa sesuatu yang menuntunku untuk meninggalkan Nurul. Bukan karena wanita lain ! Bukan karena kesalahan Nurul ! Ini salahku !
Sungguh, perasaanku berantakan ! Sedih memuncak. Percayalah, setiap aku mengingat Nurul dan semua kisahnya, mataku selalu meneteskan air mata. Ah, aku memang pria cengeng, yang selalu larut dalam masalahku sendiri.  Dan hatiku tak bisa memungkiri betapa sayangnya aku pada Nurul. Aku sungguh sangat kehilangan Nurul. Sungguh. Tidak ada satu perempuan pun yang pernah aku tangisi kepergiannya selain Nurul…
Mungkin, aku belum pantas menjadi yang istimewa untuk siapa pun. Aku terlalu sibuk dengan hidupku. Aku terlalu larut dalam kesedihanku. Aku terlalu fokus pada konflik diriku sendiri. Aku terlalu benci pada keadaan. Aku tak ingin membawa Nurul pada kesedihan. Aku tak ingin merepotkan Nurul. Aku terlalu sakit. Parah. Cepat sembuh..! Cepat pulih...!
Aku ingat kata-kata Pak Cahya..” Tunggu saja, dia pasti ada…”.
Jika saatnya tiba, aku berharap “dia” adalah Nurul.

*JIE

Minggu, 20 Oktober 2013

SENJA DI MENARA PISA, part 1

      Mungkin seperti inilah yang Ayahku alami dahulu, sama seperti yang aku alami saat ini terhadap istri dan anakku. Semenjak aku masih kecil, kami selalu kekurangan dalam segi ekonomi. Mungkin, karena hal inilah yang menjadi salah satu alasan mereka bercerai. Mereka saling mendampingi, mereka selalu menutup kekurangan satu sama lain. Tapi dalam pikiran Ayah selalu bergejolak bagaimana cara untuk mendapatkan uang tuk makan dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk sekedar membeli beras 1 liter pun kami masih merasa tak terjangkau. Memang bohong jika kami berkata bahwa kami tak mampu membeli satu liter beras setiap hari, tapi kenyataan yang ada memang demikian. Buat kami, terlalu berharga jika kami bisa melakukan itu.
            Ayahku adalah seorang pekerja serabutan yang hanya lulusan Sekolah Dasar. Sementara Ibuku pun demikian, hanya tamatan Sekolah Dasar. Terkadang, Ayahku pulang dengan tak membawa uang sama sekali. Kami kelaparan, kami ingin makan. Dan yang menganggu dalam pikiran kami hanya uang, uang dan uang. Ayah kerap meminjam uang demi anak dan istri yang sudah merindukan nikmatnya nasi dan ikan asin. Tanpa lauk pauk pun buat kami masih terasa nikmat meskipun hanya makan dengan nasi dan sambal. Kamipun masih sering makan dalam satu piring bertiga, aku, ibu dan ayah.
            Aku sadar dengan keadaan ekonomi keluargaku saat itu. Meskipun banyak sekali benda-benda yang ingin sekali aku miliki. Salah satunya, sepatu bola. Aku adalah anak yang sangat gemar pada sepak bola. Semua teman-temanku belajar di sekolah sepak bola, sementara aku masih sering bermain dengan bola plastik di sawah kering berjerami satu jam sebelum adzan Magrib. Cita-citaku pun sama seperti teman-temanku yang lain, yaitu menjadi pesepak bola profesional kelak. Dan mimpiku hanya ada pada saat aku menendang bola dan menghilang ketika aku kembali pulang ke rumah bilik bambuku.
            “ Ya Allah, begitu indahnya caramu memberikan cobaan pada keluarga kecil kami“, kerap sekali aku berucap seperti itu setelah shalat.
            Semua kesusahan kami belum berujung, justru malah semakin kami terlelap dan larut di dalamnya. Sempat Ayah ingin berjualan, tapi kami tak modal. Jangankan untuk berjualan, untuk makan sehari-hari pun kami masih sulit. Dan darimana kami bisa mendapatkan modal untuk berjualan.
Ternyata bukan hanya aku saja menangis, tapi aku pun pernah melihat ibu menangis. Aku paling tidak tega melihat ibu menangis. Ibu mendekapku ketika aku menghampirinya dan berpesan padaku agar aku sabar menerima keadaan saat itu. Dan pesan itu pun masih aku ingat sampai sekarang, dan seolah masih melekat di otak.
Mengetahui hutang kami yang begitu besar, melihat keadaan kami yang susah mendapatkan makan. Kemudian nenek ku mulai datang dan ikut campur pada masalah keluarga kami. Awalnya, nenek memberikan uang pada ibu tanpa sepengetahuan ayah. Nominal uangnya pun tidak besar, tapi cukup untuk mengganjal rasa lapar kami untuk seminggu kedepan. Rezeki yang Tuhan berikan melalui uang nenek mulai dicurigai oleh ayah. Sebab ayah berpikir uang darimana hingga bisa membuat kami bisa makan enak meskipun dengan tempe dan tahu sementara beliau jarang memberi uang, dan mungkin beliau hanya member 1 uang 2 hari sekali atau 3 hari sekali. Itupun dengan jumlah yang tidak besar. Ayah mulai menanyakan keganjilan tersebut pada ibu, dan ibu pun menceritakan semua yang terjadi. Mendengar hal itu ayah memarahi ibu dengan berkata : “ Semiskin-miskinnya keluarga kita jangan pernah meminta atau menerima uang dari nenek, ayah masih bisa cari duit, ayah masih mampu buat memberi kalian makan, meskipun uang yang ayah dapat hanya sedikit ” tegas ayah.

Kamis, 17 Oktober 2013

SENI PATUNG DI DASAR LAUT MEKSIKO

PULAU PRIBADI PARA SELEB

Leonardo DiCaprio memiliki sebuah pulau pribadi di Belize, bernama Blackadore Caye. Leo membeli pulau ini pada tahun 2005. Pulau seluas 42 hektar ini dibeli Leo seharga AS $ 1,75 juta atau sekitar Rp 19,8 miliar. Leo berencana mendirikan resort ramah lingkungan di pulau ini dalam waktu dekat.

 Shakira bersama teman seprofesinya, Roger Waters dan Alejandro Sanz membeli sebuah pulau kecil, Bonds Cay, di kepulauan Bahama. Pulau seluas 283 hektar itu dibeli dengan harga AS $ 16 juta atau sekitar Rp 181,8 miliar.
 Eddie Murphy dikenal sebagai salah satu aktor termahal di dunia, jadi wajar saja ketika ia membeli sebuah pulau. Sebuah pulau kecil di dekat Nassau, Bahama. Pulau bernama Rooster Cay dibeli Murphy pada tahun 2007 seharga AS $ 15 juta sekitar Rp 170,4 miliar.
Pesulap David Copperfield memiliki sebuah pulau di kepulauan Bahaman, bernama Musha Cay. Pulau seluas 60,7 hektar ini disewakan seharga AS $ 325 ribu atau sekitar Rp 3,6 miliar per minggu.
Mel Gibson terpikat dengan keindahan kepulaun Fiji, ia pun kemudian membeli sebuah pulau kecil di sana pada tahun 2005. Mago Island dibeli seharga AS $ 9 juta sekitar Rp 102,2 miliar.
 Johnny Depp memiliki sebuah pulau di kepulauan Bahama, Little Hall’s Pond Cay. Depp jatuh cinta dengan keindahan kepulauan Bahama ketika syuting film box office 'Pirates of the Caribbean'. Pada tahun 2004, ia membeli pulau Little Hall’s Pond Cay seharga AS $ 3,6 juta atau sekitar Rp 40,9 miliar.

KISAH-KISAH LUCU JOKOWI

Selama menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo tak hanya menjadi pejabat yang akrab dan digemari rakyat, tetapi juga dikenal sebagai pejabat yang gemar berkelakar. Tak jarang kata-kata atau cerita lucu muncul dari mulut pria asal Solo, Jawa Tengah itu.

Sebagai peringatan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, Tempo merangkum sejumlah kisah atau kalimat-kalimat lucu yang terlontar dari mulut Jokowi.

1. Pengalaman Pertama Jadi Inspektur Upacara
Selama menjadi gubernur, kisah pengalaman pertama menjadi inspektur upacara kala dilantik sebagai Wali Kota Solo adalah hal yang kerap Jokowi ceritakan. Bahkan, cerita ini sudah ia sebar sejak kampanye pilkada Jakarta

Dalam cerita itu, Jokowi mengaku salah prosedur ketika upacara memasuki bagian "hormat kepada pemimpin upacara". "Pas disuruh hormat, saya hormat. Lima menit, kok enggak turun-turun hormatnya. Wah, keliru pikir saya. Yang di depan saya sudah pada mulai ketawa. Ternyata hormat baru berhenti kalau saya kasih aba-aba."

2. Kalah Ganteng dengan Ajudan
Jokowi pernah bercerita, saat menjadi Wali Kota Solo, dirinya sempat memiliki ajudan yang lebih tampan dibanding dirinya. Karena kalah tampan, ajudannya lebih dianggap sebagai wali kota dibanding dirinya. Buktinya, setiap ada tamu, ajudannya disalami lebih dulu, dirinya belakangan.

"Sekali dua kali enggak apa, lama-lama kesel juga. Setelah tiga bulan, langsung saya ganti ajudan saya, sama yang lebih jelek. Habis itu aman, setiap ada tamu, saya disalami duluan hehehehe," ujar Jokowi.

3. Bakat Jadi Dukun
Jokowi mengaku sempat dianggap paranormal ketika menjadi Wali Kota Solo. Pernah suatu kali dirinya diminta untuk menyembuhkan seorang anak yang sakit panas.

"Karena rumah dinas saya terbuka untuk warga, ada ibu-ibu minta tolong saya sembuhkan anaknya. Saya cuma dinginkan tangan saya dengan air lalu saya usap kepala anaknya. Eh, besoknya sembuh anak itu. Mungkin saya ada bakat jadi dukun," ujarnya seraya tertawa.

4. Kucing-kucingan dengan Vojrider
Jokowi bercerita, sejak menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia kerap dikawal vojrider tiap kali hendak blusukan. Namun, pengawalan tersebut dianggap Jokowi terlalu berlebihan dan memusingkan.

"Sudah bunyi nguing nguing, jalannya gini-gini (zigzag). Saya paling enggak suka itu dikawal dengan cara seperti itu. Ganggu orang, bikin saya pusing juga," ujarnya.

Kerena kesal, Jokowi mengaku sempat kucing-kucingan dengan pengawalnya, yakni dengan menyuruh sopirnya meninggalkan vojrider saat mereka lengah. "Jadi, pas motornya lurus terus, saya belok kiri mendadak. Dia pasti bingung, nengok spion, lah Gubernur saya mana hehehehe," ujarnya sambil tertawa jahil.

5. KB-nya Gagal
Saat meluncurkan Kartu Jakarta Sehat untuk pertama kalinya, salah satu tempat yang dikunjungi Jokowi adalah kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Di sana, Jokowi bertemu dengan seorang kepala warga dan sempat mengobrol. Kala mengobrol, Jokowi sempat terhentak ketika mengetahui kelapa keluarga itu punya sembilan anak.

"Ini sih KB-nya gagal. Masak punya anak sembilan," ujar Jokowi sambil tertawa. Hal itu disambut tawa bapak yang disinggung dan wartawan.

6. The Mbronx
Dengan aksen Jawanya yang agak kental, Jokowi terkadang memodifikasi istilah-istilah asing agar mudah ia ucapkan. Saat dimintai tanggapan soal graffiti misalnya, ia menyebut Bronx, salah satu kawasan di Amerika, sebagai The Mbronx.

"Kita lihat saja the Mbronx', bagus kan? Artinya kalau tertata, gambarnya bagus, itu jadi indah, bukan urek-urekan kayak sekarang," ujarnya santai. pengucapan yang terdengar lucu di telinga itu membuat wartawan tak bisa menahan tawa. Jokowi, dengan santainya, tetap nyerocos soal The Mbronx.

Minggu, 13 Oktober 2013

IT'S BLUE

NEVERLAND UNTUK EVAN DIMAS DAN KAWAN-KAWAN

All children, except one, grow up. Semua anak, kecuali satu, tumbuh dewasa.

Ingin rasanya bermimpi kalau anak yang dikecualikan dalam kalimat pembuka novel The Adventures of Peter Pan di atas itu adalah Evan Dimas, Ilham Udin, dan rekan-rekannya di timnas U-19. Ya, andai saja mereka bisa seperti Peter Pan yang tetap kanak, emoh jadi dewasa, enggan menjadi tua....

Peter Pan dalam khayalan pengarangnya, J.M Barrie, adalah anak-anak atau remaja yang tidak bisa sekaligus tidak sudi tumbuh menjadi dewasa. Dia tak menyukai gagasan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Mood-nya bisa langsung hilang dan dengan itu dia bisa kehilangan kekuatannya jika sudah dibayang-bayangi konsep kedewasaan.

Akan halnya karakter Pangeran Kecil dalam novel dengan judul yang sama karya Antoine de Saint-Exupery, Peter Pan boleh dibilang jadi wakil dunia anak-anak sebagai simbol semangat bermain yang tulus, hasrat bersenang-senang yang masih murni, juga naluri bertualang yang mungkin tanpa pretensi.

Peter Pan dan Pangeran Kecil menertawakan kepercayaan kalau orang dewasa adalah puncak kematangan manusia. Bagi keduanya, orang dewasa hanyalah mereka yang sok lebih bijak, sok lebih tahu, sok lebih matang. Dibandingkan anak-anak, setidaknya bagi Peter Pan dan Pangeran Kecil, orang dewasa hanya lebih mahir berpura-pura.

Pangeran Kecil mengartikulasikan hal itu dengan kalimat ringkas yang bersayap: "Dasar kalian orang dewasa!"

Saya ingat keduanya, khususnya Peter Pan, terutama karena ingatan saya tentang sepakbola Indonesia memang kadung dibayangi oleh berbagai hal suram, gelap dan menyedihkan. Agak "ngeri-ngeri sedap" membayangkan timnas U-19 ini akhirnya akan masuk untuk kemudian terhisap oleh sistem sepakbola nasional yang korup, penuh kongkalikong, sarat politisasi, dan dikelola oleh pengurus yang inkompeten.

Tidak perlu terlalu banyak dibahas lagi paradoks sepakbola Indonesia yang penuh prestasi di level usia dini tapi tak bergema apa-apa di level senior. Tak terbilang kita punya anak-anak dan remaja berbakat tapi seperti menguap begitu saja setelah mereka beranjak dewasa. Bukan hal istimewa jika dulu kita bisa menjuarai Piala Pelajar Asia.

Tapi sulit benar mengkonversi trofi di usia muda itu jadi piala di masa dewasa. Di tahun 1990an, kita punya remaja-remaja penuh harapan seperti Kurniawan, Bima Sakti, Anang Ma'ruf, Asep Dayat, Aples Tecuari, dkk. Kita semua tahu, kerlip cahaya yang berpendaran di kaki-kaki remaja itu makin lama makin redup seiring mereka beranjak dewasa.

Dalam hal sepakbola Indonesia, setidaknya bertahun-tahun lamanya, usia dewasa lebih sering identik dengan kerusuhan, penganiayan pada wasit, perkelahian antarpemain, tekel-tekel horor, isu suap, skandal dengan artis, kasak-kusuk dunia malam, juga kooptasi oleh para politisi. Makin dewasa, kok ya makin tak sedap rasanya.

 Dewasa tak identik dengan kematangan -- setidaknya dalam hal sepakbola Indonesia. Atau, barangkali, memang seperti itulah sebenarnya dunia orang dewasa. Toh "matang" memang sedepa saja jaraknya dengan "busuk".

Maka, bolehlah kiranya sesekali kita berandai-andai: Evan Dimas dkk., tak akan pernah beranjak dewasa. Biarlah mereka tetap di usianya yang 17-18 tahun seperti sekarang.

Senang rasanya membayangkan mereka ini tak kenal rasa takut. Evan Dimas, misalnya, mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tak bisa dikalahkan. Mereka yang malang melintang mengamati sepakbola Indonesia mungkin bisa merasakan, pernyataan itu bukanlah ekspresi takabur, melainkan pernyataan percaya pada kekuatan diri sendiri.

Kepercayaan diri itu terlihat benar saat mereka di lapangan hijau. Evan Dimas tampak "sombong" dengan bola di kakinya, mengingatkan saya pada ekspresi angkuh Peter Pan saat meloncat ke singgasananya yang dikerubuti teman-teman kecilnya.

Ketika Evan Dimas berkata bahwa "semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan", saya yang sudah "dewasa" ini mudah saja bilang: Kau, toh, tak bisa megalahkan Brasil!

Tapi anak-anak memang akrab dengan kalimat-kalimat yang bernada tidak realistis. Realisme bukanlah dunia anak-anak. Realisme adalah jagatnya orang dewasa yang sudah mahir berhitung laba-rugi dan kian pandai mengukur kekuatan dan kelemahan. Anak-anak adalah sahabatnya fantasi, karibnya khayalan dan imajinasi. Mereka kadang tidak tahu batas, bukan karena mereka tak tahu diri, tapi karena fantasi dan imajinasi memang sangat mungkin tak memiliki batas.

Dan dengan itulah Peter Pan berbahagia dan akhirnya bisa terbang.

Dalam khayalan J.M. Barrie, kemampuan terbang Peter Pan disebut sebagai akibat dari "debu peri". Tapi kemampuan terbang itu juga mensyaratkan satu hal: Peter Pan harus berbahagia. Jika pikirannya kusut, mulai rumit dan gelisah, kian canggih dan sophisticated, maka Peter Pan bisa tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk terbang.

Maka bagi saya, salah satu prasyarat agar Evan Dimas, dkk., bisa terus terbang tinggi adalah mereka harus berbahagia. Pikiran mereka mesti jauh dari kebencian, kedengkian, kesombongan, juga pretensi yang tak perlu. Seperti halnya Peter Pan dan Pangeran Kecil, mereka hanya perlu memikirkan satu hal: bermain-main dan bersenang-senang.

Jika Peter Pan bermain dan bersenang-senang di Neverland, Zulfiandi dkk., bermain dan bersenang-senang di lapangan bola.

 Di negeri yang mudah gaduh ini, nyaris mustahil memang membayangkan kita bisa "menyediakan" negeri seperti Neverland bagi Evan Dimas, dkk. Neverland itu sudah pasti bukan liga domestik yang masih carut marut. Neverland itu juga hampir pasti bukan talkshow-talkshow di televisi, apalagi rumah para politisi yang mungkin sudah mulai mengincar Evan Dimas, dkk., untuk makan pagi di rumahnya.

Yang bisa kita lakukan, paling tidak, adalah melupakan timnas U-19 dan Indra Sjafri seakan-akan mereka itu tidak ada. Jika memang tak bisa menyediakan tempat ideal sebagaimana Neverland bagi Peter Pan, maka lebih baik lupakan saja mereka. Anggap mereka tak ada. Anggap mereka remeh temeh dan bukan siapa-siapa.

Dengan itu, mungkin, mereka bisa mendapatkan ketenangan yang dibutuhkan sekaligus keheningan yang diperlukan. Dan di dalam ketenangan dan keheningan yang jauh dari riuh-rendah publikasi itu, Indra Sjafri bisa terus blusukan mencari pemain dan para pemain bisa tetap berlatih tanpa diberi beban dan pengharapan yang berlebihan.

Dengan kembali menoleh pada cerita J.M. Barrie, tak ada salahnya mencamkan ini kembali: Peter Pan tak bisa terbang saat pikirannya kusut, bad mood, dan penuh dengan beban.

Sssstttt, jangan kasih tahu Evan Dimas soal tulisan ini, ya. Saya cemas dia akan berkata: "Dasar kamu orang dewasa!"