Minggu, 20 Oktober 2013

SENJA DI MENARA PISA, part 1

      Mungkin seperti inilah yang Ayahku alami dahulu, sama seperti yang aku alami saat ini terhadap istri dan anakku. Semenjak aku masih kecil, kami selalu kekurangan dalam segi ekonomi. Mungkin, karena hal inilah yang menjadi salah satu alasan mereka bercerai. Mereka saling mendampingi, mereka selalu menutup kekurangan satu sama lain. Tapi dalam pikiran Ayah selalu bergejolak bagaimana cara untuk mendapatkan uang tuk makan dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk sekedar membeli beras 1 liter pun kami masih merasa tak terjangkau. Memang bohong jika kami berkata bahwa kami tak mampu membeli satu liter beras setiap hari, tapi kenyataan yang ada memang demikian. Buat kami, terlalu berharga jika kami bisa melakukan itu.
            Ayahku adalah seorang pekerja serabutan yang hanya lulusan Sekolah Dasar. Sementara Ibuku pun demikian, hanya tamatan Sekolah Dasar. Terkadang, Ayahku pulang dengan tak membawa uang sama sekali. Kami kelaparan, kami ingin makan. Dan yang menganggu dalam pikiran kami hanya uang, uang dan uang. Ayah kerap meminjam uang demi anak dan istri yang sudah merindukan nikmatnya nasi dan ikan asin. Tanpa lauk pauk pun buat kami masih terasa nikmat meskipun hanya makan dengan nasi dan sambal. Kamipun masih sering makan dalam satu piring bertiga, aku, ibu dan ayah.
            Aku sadar dengan keadaan ekonomi keluargaku saat itu. Meskipun banyak sekali benda-benda yang ingin sekali aku miliki. Salah satunya, sepatu bola. Aku adalah anak yang sangat gemar pada sepak bola. Semua teman-temanku belajar di sekolah sepak bola, sementara aku masih sering bermain dengan bola plastik di sawah kering berjerami satu jam sebelum adzan Magrib. Cita-citaku pun sama seperti teman-temanku yang lain, yaitu menjadi pesepak bola profesional kelak. Dan mimpiku hanya ada pada saat aku menendang bola dan menghilang ketika aku kembali pulang ke rumah bilik bambuku.
            “ Ya Allah, begitu indahnya caramu memberikan cobaan pada keluarga kecil kami“, kerap sekali aku berucap seperti itu setelah shalat.
            Semua kesusahan kami belum berujung, justru malah semakin kami terlelap dan larut di dalamnya. Sempat Ayah ingin berjualan, tapi kami tak modal. Jangankan untuk berjualan, untuk makan sehari-hari pun kami masih sulit. Dan darimana kami bisa mendapatkan modal untuk berjualan.
Ternyata bukan hanya aku saja menangis, tapi aku pun pernah melihat ibu menangis. Aku paling tidak tega melihat ibu menangis. Ibu mendekapku ketika aku menghampirinya dan berpesan padaku agar aku sabar menerima keadaan saat itu. Dan pesan itu pun masih aku ingat sampai sekarang, dan seolah masih melekat di otak.
Mengetahui hutang kami yang begitu besar, melihat keadaan kami yang susah mendapatkan makan. Kemudian nenek ku mulai datang dan ikut campur pada masalah keluarga kami. Awalnya, nenek memberikan uang pada ibu tanpa sepengetahuan ayah. Nominal uangnya pun tidak besar, tapi cukup untuk mengganjal rasa lapar kami untuk seminggu kedepan. Rezeki yang Tuhan berikan melalui uang nenek mulai dicurigai oleh ayah. Sebab ayah berpikir uang darimana hingga bisa membuat kami bisa makan enak meskipun dengan tempe dan tahu sementara beliau jarang memberi uang, dan mungkin beliau hanya member 1 uang 2 hari sekali atau 3 hari sekali. Itupun dengan jumlah yang tidak besar. Ayah mulai menanyakan keganjilan tersebut pada ibu, dan ibu pun menceritakan semua yang terjadi. Mendengar hal itu ayah memarahi ibu dengan berkata : “ Semiskin-miskinnya keluarga kita jangan pernah meminta atau menerima uang dari nenek, ayah masih bisa cari duit, ayah masih mampu buat memberi kalian makan, meskipun uang yang ayah dapat hanya sedikit ” tegas ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar