Jumat, 25 Oktober 2013

NURUL & FAUZI



Langit hari ini cukup ceria. Dan kali ini aku tak seperti langit. Aku bosan dengan hari-hari, karena selalu saja ditaburi kisah kepiluan yang akhir-akhir ini kerap ditiru para penulis skenario sinetron. Aku sungguh jenuh dengan tuduhan “si tolol” atau “si goblok” atau apapun yang terdengar seperti suara Neraka. Aku ingin lari ke masa dimana manusia masih beradab, biarpun aku harus berangkat ke masa lampau yang lugu dan liar. Asal jangan kirim aku ke tempat seperti dunia yang sekarang ini !
“Oh jagad raya, ingin ku sapa engkau dengan manis, namun belum juga ku rangkai lengkung bibirku, kau sudah palingkan wajah sambil melempar granat panas dan bara api ke arahku”. Sungguh aku bingung harus melakukan apa. Seingat aku, sungguh aku sudah mengikuti alur yang Tuhan tunjukkan. Aku selalu dengar dengan khidmat ketika Pak Abdul melantunkan adzan lima kali sehari. Aku tau harus harus melakukan apa setelah mendengar kalimat “ Hayya Ala Sholah ”. Aku juga tau, apa yang harus aku lakukan ketika melihat seorang anak lusuh memohon sedekah untuk makan siang di jalanan yang penuh dengan anjing dan debu. Aku rasa, aku juga tau cara tersenyum dan bergaul dengan baik pada sesama ataupun orang tua. Bahkan aku mengerti kapan aku harus ikut tersenyum atau harus berbagi tangis. Aku tau semua itu.
Detik yang menghantam perasaan. Detik ini adalah salah satu detik yang tersakit bagiku. Saat Ayah memaksa adikku (Fauziah) masuk ke kamarnya, dan merampas kesuciannya dengan ditemani setan yang bertaring tajam. Adakah yang lebih dari kata sedih. Hancur. Padahal, aku masih ingat ketika Ayah berpesan, “ Fauzi, usahakan sembahyang tahajjud setiap malam, agar Tuhan menjauhkan kita dari perbuatan nista. Dan hati-hati ketika kau bergaul dengan teman-temanmu ! Akhlak baikmu harus kau  jadikan pelindung,. Bukan topeng semata, agar setiap orang memaknai dirimu”. Dan bagiku, kata-kata itu tetap mutiara. Namun Ayah, adalah tempat kotor yang lebih-lebih dari tumpukan sampah dan bangkai babi hutan. Ayah yang berbudi binatang.
Biarkan aku balut luka luka-luka Fauziah, walaupun tak ada satupun perban yang mampu mengeringkannya. Biarlah aku coba kecup keningnya, meski tak sehangat masa indahnya seminggu yang lalu. Biarlah aku coba hapus memorinya, tentang bejatnya 10 Oktober itu ! Adikku sayang, bintang mana yang kau mau? Akan ku petik utuh untuhmu.
Tiga hari berlalu, dengan mata bengkakku. Dengan wajah pucat Fauziah. Dengan kemurkaan Tuhan entah pada siapa. Dan aku mulai sulit menangis setelah ibu jarang berada di rumah. Dan ketika mulai menemukan kata-kata janggal di telepon genggam milik Ibu. To : Mas Rio, “ Habis pulsa ya sayang ?  Suamiku di penjara… tapi baguslah, meski dia disini tetap saja tak ada uang. Nanti aku ke tempatmu lagi. Aku rindu bercinta”. Sungguh betapa birahi adalah raja. Betapa uang adalah cinta. Aku tak bisa lagi menangis, meski dada terasa penuh sesak dan tenggorokan seakan ditekan baja. Biarlah Tuhan yang menjadi orang tua kami. Tak perlu dia, tak perlu mereka.
Fauziah adikku sayang. Berbalut kebaya putih. Rambutnya ikal disanggul, sungguh menawan. Adikku tampaknya cantik dan suci. Karena yang kotor adalah yang mengotorinya ! Bukan adikku sayang. Mereka bersanding di pelaminan berhiaskan bunga-bunga melati yang berkalung di leher. Harum semerbak, seharum cinta dan kebahagiaan. Ihsan sang pemuda baik hati duduk disamping malaikat cantikku. Pemuda itu tulus mencintai Fauziah. Terima kasih Tuhan, Fauziah tak lagi kedinginan.
Fauziah dan Ihsan pergi. Mereka memulai hidup barunya di tempat yang jauh dariku. Fauziah tinggalkan aku disini sendiri. “ Semoga bahagia disana, kelak jika menjadi seorang Ibu dan Ayah, jadilah yang terbaik”, mataku merah berkaca.
“Kak Fauzi, Fauziah yakin Kakak mampu meski sendiri disini. Yang Fauziah tau, Kaka adalah satu-satunya pria paling tangguh yang Fauziah kenal. Fauziah sayang Kakak”, kami berpelukan. Mungkin pelukan paling hangat dan erat sedunia.
Dan dua tahun sudah, Fauziah jauh dariku. Tapi aku bahagia, karena Fauziah dan Ihsan telah dianugerahi putri cantik. Sering sekali aku dan Fauziah berkirim surat. Meski jauh, tapi hati kami dekat. Sangat dekat…
Jum’at pagi adalah jadwalku bertemu Pak Cahya. Aku berlari sekencang-kencangnya. Nafas memburu. Keringat menetes satu demi satu. Pagi itu, aku mengejar bis kota yang memang jarang melintas. Armadanya sedikit, tapi peminatnya sangat banyak. Bis kota memang angkutan yang paling murah. Aku tinggal menyodorkan uang Rp. 1.500,- untuk sampai ke ujung jalan Soekarno-Hatta. Daerah Elang tepatnya. Sampailah aku ditempat tujuan. Di hadapanku terpampang spanduk bertuliskan “Waroeng Seni Pak Tjahja”. Aku memang pecinta seni. Untuk makan sehari-hari  dan untuk sekedar membeli sabun cuci, aku menjual berupa seni lukisan dan tulisan. Aku sering membuat lukisan abstrak dan tulisan-tulisan dongeng kehidupan. Aku melukiskan kenyataan. Aku menceritakan kenyataan.
Di warung seni itu, aku sering bertukar pikiran dengan Pak Cahya. Seorang seniman sederhana yang bersahaja. Aku selalu berdiskusi tentang karya-karyaku yang aku anggap sungguh masih sangat amatir. Kami sering berdiskusi tentang kehidupan, alam semesta, kesulitan, kebahagiaan, hingga cinta kasih sayang. “Apa kau telah temukan cinta sejatimu, Nak ?”, Pak Cahya menatapku curiga. Aku tersentak ! Cinta ? aku lupa dengan kata itu. Aku terlalu acuh. Aku baru menyadari, mengapa aku selalu merasa tidak lengkap. Aku merasa selalu ada sesuatu yang hilang. Kosong. Tapi apa benar cinta ? Aku terbingung-bingung. Apa aku pernah jatuh cinta??? Aku lupa!
Oh, empat tahun lalu aku memang pernah berpacaran. Meski sesungguhnya aku sangat benci bermain hati dan perasaan dengan makhluk yang bergelar perempuan. Wanita itu bernama Aisyah. Lima bulan berpacaran, aku memutuskan untuk menyelesaikan hubungan. Aku merasa Aisyah terlalu manja dan memaksa. Aku tidak punya banyak waktu untuk selalu menemaninya. Untuk setiap hari mengusap rambut panjangnya. Untuk setiap saat mengecup keningnya. Aisyah memang baik, namun ia tak mengerti betapa aku tak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Betapa aku tak suka berleha-leha. Aku harus mencari uang. Untuk makan. Tapi terimakasih Aisyah, kau telah ikut mewarnai cerita sejarah hidupku.
Satu tahun setelah Aisyah. Aku memang pernah dekat dengan Nina. Kami berkenalan ketika aku dan teman-teman sedang menonton pertandingan sepak bola di Stadion Si Jalak Harupat. Saat itu pertandingan antara Persib melawan Persela Lamongan. Nina adalah seorang Ladies Viking, tubuhnya tinggi, kulitnya pun putih. Aku mengenalnya setelah aku tak sengaja menarik tangannya untuk menghindari dia dari kerimunan massa yang brutal. Nina sangat baik, dan sempat mengisi hari-hariku yang terasa hampa. Ketika pertama mengenalnya, Nina terlihat seperti wanita yang sangat sempurna. Tapi sayangnya, ketika hubungan kita menjadi lebih jauh ternyata Nina tidak bisa menerima semua yang telah menjadi prinsipku. Bukan aku munafik, tapi aku tidak suka pada wanita yang tidak paham batas-batas cinta dan buta akan etika saat berpacaran. Aku bukan pria yang mau berselimut berduaan, dengan wanita yang belum menjadi istriku. Dan terimakasih Nina, kau juga telah mewarnai cerita hidupku.
Dan terakhir, 6 bulan yang lalu. Aku bertemu wanita bernama Tia di sebuah base camp pencinta alam (PA). Tia sangat ramah. Wanita itu begitu sopan dan cerdas. Mungkin dalam pandangannya aku begitu baik, sehingga Tia mulai mendekatiku setelah beberapa Minggu kami saling mengenal. Sebenarnya aku bukan pria yang mudah jatuh cinta, tapi satu-satunya alasan menerima Tia adalah aku ingin disayangi. Dunia… Aku belum mati ! Aku ingin ada manusia yang menganggap aku istimewa. Aku ingin dianggap ada. Tapi sayangnya hubungan kami hanya bertahan sembilan belas hari. Pada suatu malam yang remang di salah satu kamar base camp PA, aku melihat Tia sedang bercumbu mesra setengah telanjang dengan pria yang entah siapa. Maaf Tia, mungkin aku tak bisa memenuhi hasratmu. Dan terimakasih, kau pun telah ikut mewarnai lembaran hidupku.
“Begitulah kisahku, Pak”. Dari sekian wanita yang aku kenal belum ada yang benar-benar aku cintai. Masalah berbeda kebiasaan dan berbeda pendapat, aku masih bisa maklumi. Tapi jika masalah yang berkaitan dengan masalah penghargaan terhadap kehidupan, aku tak bisa terima.! Aku takut membenci perempuan, Pak. Dan aku takut tak pernah mau lagi menjalin hubungan dengan perempuan”. Aku tertunduk lelah.
“Kamu tunggu saja. Dia pasti ada…” Pak Cahya tersenyum begitu hangat. Aku langsung terinspirasi untuk melukiskan senyuman di kanvas. Aku ikut tersenyum seraya pamit. Waktunya shalat Jum’at untuk yang mengamalkan.
Jum’at pagi datang lagi. Kali ini aku tidak kemana-mana. Aku sibuk mencorat-coret kanvas. Memuntahkan isi kepala. Lagi-lagi warna gelap yang tergores disana, sehingga terkesan klasik. Lukisanku jarang sekali berwarna-warni. Entahlah apa sebabnya, aku sendiri belum tau.
Pagi itu, aku masih menunggu. Menunggu “cinta”, aku memang bukan pria manja atau manusia yang hanya bisa menggantungkan hidup pada orang lain. Tapi bukankah semua manusia di muka bumi butuh cinta. Butuh orang yang dirinya istimewa. Bukan begitu ?
Aku berusaha membuka diri. Meski sesungguhnya sangat sulit sekali. Tapi aku butuh cinta ! Aku ingin sekali disayangi ! Salahkah aku ?
“Fauzi…, nama yang sederhana. Sudah lama aku tak mendengar nama itu”, Nurul tersenyum menatapku. Matanya ramah dan teduh memakai softlens birunya. Entah mengapa, aku merasa tenang berada di sampingnya. Dan sedikit gugup. Aku aneh, tak seperti biasanya.
Aku mengenal Nurul sebulan lalu. Tanpa sengaja kami berkenalan saat bertemu disebuah sanggar seni. Ternyata, Nurul adalah teman dari sahabatku sendiri, Ale. Hubungan kami semakin dekat. Apalagi setelah Ale mengetahui aku mengenal Nurul.
Kami semakin akrab saja. Banyak kesamaan yang aku rasakan bersama Nurul. Kami sama-sama menyukai seni meskipun berbeda aliran. Diskusi kami hangat dan padat. Kami sama-sama menyukai musik dan sepak bola. Dan kami sama-sama orang aneh.
Tiba-tiba, aku merasa sesuatu yang asing memenuhi jiwaku. Aku merasa ada yang hilang jika sehari saja tak mendengar nama Nurul. Aku merasa ada yang kurang jika sehari saja memikirkan nama Nurul. Ah, apakah ini berlebihan ? Mengapa aku merasa nyaman jika berada di dekat Nurul. Mengapa setiap saat aku selalu rindu suara Nurul !?. Mengapa ? tak biasanya perasaanku seperti ini terhadap perempuan.
Nurul yang aku kenal adalah sosok wanita yang menghargai hidup. Sosok wanita yang pengertian, supel, penyayang, cerdas, menyenangkan dan enerjik. Meski Nurul sama sepertiku. Kami sama-sama tidak mempunyai tempat yang cukup hangat. Tidak mempunyai sosok yang mengayomi kami setiap saat. Hanya Tuhan yang menghangatkan kami. Mungkin, hal itu yang menyebabkan kami sepaham. Kami saling mengerti. Terimakasih Tuhan.
Aku baru menyadari, ternyata Nurul pun merasakan hal yang sama. Nurul terang-terangan mengutarakan konflik perasaannya padaku. Kata Nurul, kesimpulannya adalah cinta. “Nurul Cinta Fauzi”, kalimat itu menusuk perlahan. Meski masih ragu, tapi sang yakin berperan lebih dominan. Akhirnya, aku menyambut Nurul. Tuhan, jaga kami…           
Lima puluh hari yang indah ! Aku sebagai kekasih Nurul hanya sebulan dua puluh hari saja. Ternyata keadaan harus memisahkan kami. Aku merasa sesuatu yang menuntunku untuk meninggalkan Nurul. Bukan karena wanita lain ! Bukan karena kesalahan Nurul ! Ini salahku !
Sungguh, perasaanku berantakan ! Sedih memuncak. Percayalah, setiap aku mengingat Nurul dan semua kisahnya, mataku selalu meneteskan air mata. Ah, aku memang pria cengeng, yang selalu larut dalam masalahku sendiri.  Dan hatiku tak bisa memungkiri betapa sayangnya aku pada Nurul. Aku sungguh sangat kehilangan Nurul. Sungguh. Tidak ada satu perempuan pun yang pernah aku tangisi kepergiannya selain Nurul…
Mungkin, aku belum pantas menjadi yang istimewa untuk siapa pun. Aku terlalu sibuk dengan hidupku. Aku terlalu larut dalam kesedihanku. Aku terlalu fokus pada konflik diriku sendiri. Aku terlalu benci pada keadaan. Aku tak ingin membawa Nurul pada kesedihan. Aku tak ingin merepotkan Nurul. Aku terlalu sakit. Parah. Cepat sembuh..! Cepat pulih...!
Aku ingat kata-kata Pak Cahya..” Tunggu saja, dia pasti ada…”.
Jika saatnya tiba, aku berharap “dia” adalah Nurul.

*JIE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar