Minggu, 13 Oktober 2013

NEVERLAND UNTUK EVAN DIMAS DAN KAWAN-KAWAN

All children, except one, grow up. Semua anak, kecuali satu, tumbuh dewasa.

Ingin rasanya bermimpi kalau anak yang dikecualikan dalam kalimat pembuka novel The Adventures of Peter Pan di atas itu adalah Evan Dimas, Ilham Udin, dan rekan-rekannya di timnas U-19. Ya, andai saja mereka bisa seperti Peter Pan yang tetap kanak, emoh jadi dewasa, enggan menjadi tua....

Peter Pan dalam khayalan pengarangnya, J.M Barrie, adalah anak-anak atau remaja yang tidak bisa sekaligus tidak sudi tumbuh menjadi dewasa. Dia tak menyukai gagasan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Mood-nya bisa langsung hilang dan dengan itu dia bisa kehilangan kekuatannya jika sudah dibayang-bayangi konsep kedewasaan.

Akan halnya karakter Pangeran Kecil dalam novel dengan judul yang sama karya Antoine de Saint-Exupery, Peter Pan boleh dibilang jadi wakil dunia anak-anak sebagai simbol semangat bermain yang tulus, hasrat bersenang-senang yang masih murni, juga naluri bertualang yang mungkin tanpa pretensi.

Peter Pan dan Pangeran Kecil menertawakan kepercayaan kalau orang dewasa adalah puncak kematangan manusia. Bagi keduanya, orang dewasa hanyalah mereka yang sok lebih bijak, sok lebih tahu, sok lebih matang. Dibandingkan anak-anak, setidaknya bagi Peter Pan dan Pangeran Kecil, orang dewasa hanya lebih mahir berpura-pura.

Pangeran Kecil mengartikulasikan hal itu dengan kalimat ringkas yang bersayap: "Dasar kalian orang dewasa!"

Saya ingat keduanya, khususnya Peter Pan, terutama karena ingatan saya tentang sepakbola Indonesia memang kadung dibayangi oleh berbagai hal suram, gelap dan menyedihkan. Agak "ngeri-ngeri sedap" membayangkan timnas U-19 ini akhirnya akan masuk untuk kemudian terhisap oleh sistem sepakbola nasional yang korup, penuh kongkalikong, sarat politisasi, dan dikelola oleh pengurus yang inkompeten.

Tidak perlu terlalu banyak dibahas lagi paradoks sepakbola Indonesia yang penuh prestasi di level usia dini tapi tak bergema apa-apa di level senior. Tak terbilang kita punya anak-anak dan remaja berbakat tapi seperti menguap begitu saja setelah mereka beranjak dewasa. Bukan hal istimewa jika dulu kita bisa menjuarai Piala Pelajar Asia.

Tapi sulit benar mengkonversi trofi di usia muda itu jadi piala di masa dewasa. Di tahun 1990an, kita punya remaja-remaja penuh harapan seperti Kurniawan, Bima Sakti, Anang Ma'ruf, Asep Dayat, Aples Tecuari, dkk. Kita semua tahu, kerlip cahaya yang berpendaran di kaki-kaki remaja itu makin lama makin redup seiring mereka beranjak dewasa.

Dalam hal sepakbola Indonesia, setidaknya bertahun-tahun lamanya, usia dewasa lebih sering identik dengan kerusuhan, penganiayan pada wasit, perkelahian antarpemain, tekel-tekel horor, isu suap, skandal dengan artis, kasak-kusuk dunia malam, juga kooptasi oleh para politisi. Makin dewasa, kok ya makin tak sedap rasanya.

 Dewasa tak identik dengan kematangan -- setidaknya dalam hal sepakbola Indonesia. Atau, barangkali, memang seperti itulah sebenarnya dunia orang dewasa. Toh "matang" memang sedepa saja jaraknya dengan "busuk".

Maka, bolehlah kiranya sesekali kita berandai-andai: Evan Dimas dkk., tak akan pernah beranjak dewasa. Biarlah mereka tetap di usianya yang 17-18 tahun seperti sekarang.

Senang rasanya membayangkan mereka ini tak kenal rasa takut. Evan Dimas, misalnya, mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tak bisa dikalahkan. Mereka yang malang melintang mengamati sepakbola Indonesia mungkin bisa merasakan, pernyataan itu bukanlah ekspresi takabur, melainkan pernyataan percaya pada kekuatan diri sendiri.

Kepercayaan diri itu terlihat benar saat mereka di lapangan hijau. Evan Dimas tampak "sombong" dengan bola di kakinya, mengingatkan saya pada ekspresi angkuh Peter Pan saat meloncat ke singgasananya yang dikerubuti teman-teman kecilnya.

Ketika Evan Dimas berkata bahwa "semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan", saya yang sudah "dewasa" ini mudah saja bilang: Kau, toh, tak bisa megalahkan Brasil!

Tapi anak-anak memang akrab dengan kalimat-kalimat yang bernada tidak realistis. Realisme bukanlah dunia anak-anak. Realisme adalah jagatnya orang dewasa yang sudah mahir berhitung laba-rugi dan kian pandai mengukur kekuatan dan kelemahan. Anak-anak adalah sahabatnya fantasi, karibnya khayalan dan imajinasi. Mereka kadang tidak tahu batas, bukan karena mereka tak tahu diri, tapi karena fantasi dan imajinasi memang sangat mungkin tak memiliki batas.

Dan dengan itulah Peter Pan berbahagia dan akhirnya bisa terbang.

Dalam khayalan J.M. Barrie, kemampuan terbang Peter Pan disebut sebagai akibat dari "debu peri". Tapi kemampuan terbang itu juga mensyaratkan satu hal: Peter Pan harus berbahagia. Jika pikirannya kusut, mulai rumit dan gelisah, kian canggih dan sophisticated, maka Peter Pan bisa tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk terbang.

Maka bagi saya, salah satu prasyarat agar Evan Dimas, dkk., bisa terus terbang tinggi adalah mereka harus berbahagia. Pikiran mereka mesti jauh dari kebencian, kedengkian, kesombongan, juga pretensi yang tak perlu. Seperti halnya Peter Pan dan Pangeran Kecil, mereka hanya perlu memikirkan satu hal: bermain-main dan bersenang-senang.

Jika Peter Pan bermain dan bersenang-senang di Neverland, Zulfiandi dkk., bermain dan bersenang-senang di lapangan bola.

 Di negeri yang mudah gaduh ini, nyaris mustahil memang membayangkan kita bisa "menyediakan" negeri seperti Neverland bagi Evan Dimas, dkk. Neverland itu sudah pasti bukan liga domestik yang masih carut marut. Neverland itu juga hampir pasti bukan talkshow-talkshow di televisi, apalagi rumah para politisi yang mungkin sudah mulai mengincar Evan Dimas, dkk., untuk makan pagi di rumahnya.

Yang bisa kita lakukan, paling tidak, adalah melupakan timnas U-19 dan Indra Sjafri seakan-akan mereka itu tidak ada. Jika memang tak bisa menyediakan tempat ideal sebagaimana Neverland bagi Peter Pan, maka lebih baik lupakan saja mereka. Anggap mereka tak ada. Anggap mereka remeh temeh dan bukan siapa-siapa.

Dengan itu, mungkin, mereka bisa mendapatkan ketenangan yang dibutuhkan sekaligus keheningan yang diperlukan. Dan di dalam ketenangan dan keheningan yang jauh dari riuh-rendah publikasi itu, Indra Sjafri bisa terus blusukan mencari pemain dan para pemain bisa tetap berlatih tanpa diberi beban dan pengharapan yang berlebihan.

Dengan kembali menoleh pada cerita J.M. Barrie, tak ada salahnya mencamkan ini kembali: Peter Pan tak bisa terbang saat pikirannya kusut, bad mood, dan penuh dengan beban.

Sssstttt, jangan kasih tahu Evan Dimas soal tulisan ini, ya. Saya cemas dia akan berkata: "Dasar kamu orang dewasa!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar