Kamis, 04 Agustus 2011

PURA - PURA


Aku berpura-pura, aku berperan menjadi orang yang selalu bahagia. Yang selalu tersenyum manis atau tertawa lepas di hadapan para sahabat. Tapi, di belakang mereka aku menangis sendu tiada henti. Tangis ku seperti ombak yang datang silih berganti di tepian pantai, terus menerus tiada henti.

Betapa menyakitkan dan serasa aku ingin memenggal kepala ku sendiri yang dibebani oleh kekecewaan. Tak ada tempat untuk bertahan dan tiada bahu untukku bersandar. Ayah-Ibu telah jauh dan semakin jauh. Terlalu rumit bagiku untuk menjangkau rasa peduli dan kasih sayang dari mereka.

Inilah penjaraku. Penjara yang akan aku tempati hingga aku mati. Inilah alasan yang menghentikan ku untuk mencari jati diri. Kabut kemelut dan silaunya kacau balau serasa menghalangi tiap pandangan mata tertuju.

Aku malu! dengan keadaan yang seolah telah menelanjangi tubuhku hingga bugil mengigil, tanpa perlindungan dan tanpa penjagaan.

Aku terlanjur, terlanjur berteman dengan isak tangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar