Sabtu, 15 Agustus 2020

CIREMAI

Maret 2020, saya mempunyai ide untuk mendaki Gunung Ciremai. Bukan hanya sendiri, tapi saya berniat mengajak beberapa teman sependakian yang juga memiliki hobi yang sama. Oke, waktu sudah ditentukan dan jumlah teman yang mendaki juga telah siap. Dan kami merencanakan di bulan April untuk memulai petualangan.

Singkat cerita, pada pertengahan April siap untuk booking online Gunung Ciremai, hambatan datang saat H-7 bahwa semua pendakian Gunung Ciremai ditutup untuk semua jalur ( Linggarjati, Palutungan dan Apuy) karena lockdown dari efek COVID-19.

Tuhan memberi petunjuk, memang belum saatnya kami mengeksekusi percobaan pertama pada April lalu.

Maret, April, Mei, Juni, Juli dan Agustus. Percobaan kedua dari ide untuk pendakian ke Gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut masih singgah dalam benak. Semakin lama animo dan antusias semakin membesar. Browsing kanan kiri, kapan semua jalur pendakian Gunung Ciremai di buka.

Up to date, seorang teman memberi 'screenshot' bahwa jalur pendakian Gunung Ciremai via Palutungan dibuka untuk para pendaki pada 6 Agustus 2020. Sontak. Tak perlu berlarut-larut berfikir, grup whatsapp  yang sempat sepi diramaikan kembali. Dengan anggota yang sama tapi ada beberapa yang berhalangan ikut namun mudah mendapatkan pengganti yang memiliki ambisi yang sama. Tercatat ada enam calon pendaki yang sudah cukup melebihi minimal kuota pendaki untuk satu tim.

Nama, No. Identitas, Kota Asal, Jenis Kelamin dan No. Handphone terdaftar dalam booking online dalam situs resmi TNGCiremai. Segala macam persyaratan, peraturan dan hal-hal yang dilarang wajib diketahui. Oke, siap mempelajari demi 15 dan 16 Agustus.

Jauh hari seluruh alat pendakian dipersiapkan. Bahkan, sangkaka Merah-Putih ukuran terbesar yang nanti akan dikibarkan pun tersimpan rapi dalam carrier. Hambatan pertama datang sesaat setelah petugas basecamp menelpon. "Untuk menerapkan New Normal usai pandemi, semua pendaki yang berdomisili diluar area Ciayumajakuning ( Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan ) wajib membawa surat keterangan hasil Rapid Test dari daerah asalnya masing-masing. Karena surat keterangan sehat dari Kedokteran hanya berlaku untuk calon pendaki dari Ciayumajakuning". 

Ternyata, persyaratan surat keterangan sehat dari Kedokteran yang terlampir dalam situs resmi tidak bersifat untuk umum. Lantas apa yang membedakan Ciremai dengan Gunung lain di Jawa Barat atau Jawa Tengah? alasan yang paling menguatkan adalah TNGCiremai dikelola langsung Kementrian Lingkungan Hidup dan Perhutanan. Jadi, surat hasil rapid test diwajibkan untuk calon pendaki sesuai dengan protokol ketetapan New Normal yang diterbitkan. Beda hal dengan calon pendaki yang berasal Ciayumajakuning, mereka cukup dengan surat keterangan sehat saja.

Hambatan kedua datang setelah berunding di grup whatsapp, satu diantara kami berenam menolak untuk rapid test. Saya pribadi dan teman-teman siap untuk Rapid Test meskipun tersiar kabar bahwa biaya untuk penanganan lebih mahal dari biaya simaksi. Walau ada yang bilang murah, bahkan gratis. Kami pernah bersepakat, jika satu orang gagal ikut mendaki maka acara pendakian digagalkan saja. Kami rutin membujuk teman yang menolak agar siap sedia di Rapid Test selagi masih ada waktu luang ke hari H. Lantas jawaban yang terucap adalah depresi dan trauma pada Rapid Test, alasannya bahwa dia pernah divonis Positif terjangkit Corona oleh warga disekitar rumahnya yang memang tempat tinggalnya berada di Zona Merah. Meskipun setelah di Rapid Test ia negatif terjangkit, namun tetap ogah untuk mengulang kembali perihal Rapid Test demi syarat wajib pendakian.

Satu orang diragukan ikut, mengurangi jumlah keanggotaan kami dalam tim. Lalu berdampak pada anggota lain yang juga memutuskan untuk tidak ikut pendakian. Dan tersisa, tinggal empat orang, total minimal satu tim untuk pendakian ke Ciremai.

Lantas, apakah kami melanjutkan petualangan yang sama sekali belum dimulai ? Kami semua sudah terlanjur ambil libur dan cuti pada hari H. Seusai briefing dadakan kami memilih tetap melanjutkan petualangan dengan mengambil alternatif menuju Gunung lain agar ke enam anggota tim bisa ikut serta. Opsi pertama adalah Gunung Lawu dan opsi kedua adalah Gunung Cikuray. 

Untuk dua Gunung tersebut tidak ada anjuran untuk Rapid Test terlebih dahulu. Cukup dengan masker dan hand sanitizer. Tidak ada yang mempersulit untuk semua calon pendaki. Selama raga sehat, silahkan saja mendaki. Karena simpelnya, orang sakit tidak mungkin memaksa mendaki Gunung, atau pun yang terjangkit dan positif Corona pasti diisolasi dan dikarantina. 

Lantas bagaimana kami bisa yakin bahwa kami tidak terjangkit padahal untuk Rapid Test pun tidak?!

Hambatan ketiga, tidak akan cukup dengan estimasi waktu dua hari dari Tangerang untuk bisa ke Lawu. Karena pada 18 Agustus pun beberapa dari kami harus kembali bekerja. Saya setuju, dan masuk akal. Pilihan teralih ke Gunung Cikuray. "Bagaimana teman-teman, siap ke Gunung Cikuray ?" tanya saya untuk membuka pembahasan. Lagi-lagi, selalu jawaban sumbang yang tercetus. Bahwa, dengan bangganya: "Sudah pernah kalau ke Cikuray...!". Padahal, dengan estimasi dua hari dua malam cukup untuk pulang pergi ke Cikuray, asalkan hari keberangkatan dihari sebelumnya. Padahal, semoga anggota memang pernah mendaki Cikuray, namun dalam benak mereka berfikir lain, daripada tidak mendaki sama sekali, Cikuray bisa menjadi pilihan yang tepat. Entah ke Gunung manapun asal hobi tersalurkan setelah cukup lama dikurung dimasa pandemi.

Dengan berat hati, daripada tidak menemukan titik temu dan solusi, pendakian ke Gunung Ciremai ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Dan alternatif ke Lawu atau pun ke Cikuray ditiadakan. 15 - 16 Agustus, semua kembali pada rutinitas masing-masing. Selamat berpetualang di rumah sendiri.

[Takkan lari gunung dikejar, semua ada saatnya, sabar. Tuhan tidak akan keliru memilih waktu terbaik untuk moment indah dalam hidupmu].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar