Kamis, 28 April 2016

LEICESTER CITY MENCARI HABITAT BARU

Liga Champions, sesuai dengan namanya, adalah arena para juara. Meskipun nantinya Leicester City jadi juara Liga Inggris, apakah Liga Champions juga habitat yang cocok untuk mereka?

Setahun yang lalu, tampaknya tak seorang pun di muka bumi yang berpikir akan ada wakil baru Inggris di Liga Champions. Saat bicara Liga Champions, yang terpikirkan adalah nama Manchester United, Manchester City, Chelsea, dan Arsenal. Tim lain yang diperkirakan bisa menembus empat besar paling cuma Liverpool dan Tottenham Hotspur, yang memang sudah punya pengalaman di Liga Champions.

Kenapa Leicester? Kenapa bukan Stoke City saja, yang terlihat lebih menjanjikan karena memborong pemain-pemain tenar di awal musim? Atau Southampton, yang tampil mengesankan di bawah arahan Ronald Koeman?

Tapi, faktanya wakil baru Inggris di Liga Champions itu adalah Leicester. Iya, Leicester yang setahun lalu masih pusing menyelamatkan diri dari jeratan degradasi. Leicester yang musim lalu lama menjadi juru kunci Premier League. Leicester yang sebelumnya punya habitat di papan bawah bersama tim-tim medioker lainnya macam Norwich City, Sunderland, dan Bournemouth.

Kehadiran Claudio Ranieri rupanya mengubah segalanya. Meski banyak diremehkan ketika ditunjuk sebagai pengganti Nigel Pearson, pria Italia itu tiba-tiba menjadi seperti tukang sihir yang mengobrak-abrik peta kekuatan tim-tim di Premier League.

Ranieri sebenarnya diberi tugas yang sederhana oleh bos Leicester, Vichai Srivaddhanaprabha. Dia hanya harus memastikan timnya tidak kehilangan status sebagai penghuni Premier League. Artinya, asalkan Leicester tidak terdegradasi, posisi Ranieri di kursi manajer masih relatif aman.

"Saya ingat pertemuan pertama dengan chairman ketika saya tiba di Leicester City. Dia duduk bersama saya dan berkata, 'Claudio, ini adalah musim yang amat penting untuk klub. Sangat penting bagi kita untuk bertahan di Premier League. Kita harus tetap aman'. Jawaban saya adalah 'Oke, tentu saja. Kita akan bekerja keras di tempat latihan dan berusaha untuk mencapainya'," kata Ranieri beberapa waktu lalu.

Dalam penafsiran Ranieri, bertahan di Premier League berarti meraih minimal 40 poin dalam semusim. Dengan jumlah poin tersebut, Leicester harusnya aman dari degradasi.

Akan tetapi, Ranieri dan Leicester rupanya "kebablasan". Setelah target 40 poin tercapai, mereka tak berhenti mengumpulkan angka. Mereka kini telah memastikan satu tempat di fase grup Liga Champions musim depan.

Di arena Liga Champions musim depan, Leicester memang tim pendatang baru. Namun, The Foxes sebenarnya punya pengalaman tampil di kompetisi antarklub Eropa meski tak banyak. Leicester ambil bagian di Piala Winners 1961/1962, Piala UEFA 1997/1998, dan Piala UEFA 2000/2001. Tak ada yang bisa dibanggakan dari keikutsertaan Leicester dalam tiga kesempatan tersebut karena mereka tak bisa melewati babak pertama.

Liga Champions adalah sesuatu yang berbeda. Yang tampil di dalamnya adalah tim-tim terbaik dari seluruh penjuru Benua Biru. Apakah Leicester pantas berada di sana? Tentu saja pantas karena mereka telah bekerja sangat keras demi mencapai posisi mereka sekarang. Namun, apakah Leicester akan menjadikan Liga Champions sebagai habitat baru mereka atau mereka ternyata sekadar numpang lewat, itu persoalan lain.

Pada 25 Agustus 2016 mendatang, Leicester akan mengetahui tim-tim mana yang akan menjadi lawan mereka di fase grup Liga Champions. Pada tanggal tersebut, undian fase grup akan dilakukan di Monako. Sebagaimana di babak-babak lainnya, hasil undian di fase grup juga akan sangat memengaruhi pencapaian sebuah tim. Kalau hasil undian menguntungkan, Leicester bisa saja bermimpi untuk melaju ke babak knockout. Namun, kalau sedang apes, mereka mungkin saja terjebak di grup neraka.

Bicara soal undian fase grup tentu tak bisa dilepaskan dari pertanyaan "masuk pot mana?". Pertanyaan tersebut akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan. Jika Leicester jadi juara Premier League, mereka akan masuk Pot 1. Pot 1 berisi tim-tim juara dari tujuh liga teratas Eropa plus tim juara Liga Champions musim ini.

Jika Leicester tidak juara dan finis di posisi kedua atau ketiga, maka nasib mereka akan ditentukan oleh ranking koefisien UEFA klub-klub peserta fase grup musim depan. Koefisien ini akan bergantung pada pencapaian masing-masing klub di kompetisi Eropa dalam lima musim terakhir. Karena Leicester absen di kompetisi Eropa dalam lima musim terakhir, mereka hampir pasti masuk Pot 4.

Masuk Pot 1 tak jadi jaminan Leicester masuk grup ringan. Sebaliknya, masuk Pot 4 juga tidak berarti akhir dunia bagi mereka.

Jika mengacu pada pembagian pot musim ini, dengan masuk Pot 1 Leicester bisa saja satu grup dengan tim-tim seperti Porto, Olympiakos, dan Maccabi Tel Aviv. Namun, mereka bisa juga langsung bertemu Real Madrid, AS Roma, dan Wolfsburg.

Sementara jika masuk Pot 4, Leicester mungkin saja masuk grup berat yang berisi Bayern Munich, Real Madrid, dan Roma. Tapi, tidak menutup kemungkinan mereka mendapat grup yang lebih ringan dengan bertemu Zenit Saint Petersburg, Porto, dan Olympiakos.

Skenario-skenario itu juga akan berlaku pada musim depan. Semuanya akan bergantung pada seberapa beruntung Leicester dalam drawing.

 Leicester sebenarnya tak perlu berkecil hati dengan status mereka sebagai tim debutan di Liga Champions. Ada beberapa tim debutan yang sukses membuat kejutan kok. Musim ini, Gent dan Wolfsburg berhasil menembus babak knockout. Sementara APOEL di luar dugaan lolos ke perempatfinal pada 2011/2012. Tapi, belum ada yang mengalahkan sensasi Villarreal-nya Manuel Pellegrini, yang maju sampai semifinal pada 2005/2006.

Lagipula, Leicester punya seorang manajer yang punya pengalaman di level Eropa dalam diri Ranieri. Ranieri pernah mengantarkan Chelsea ke semifinal Liga Champions pada 2003/2004. Saat bekerja di Valencia, Ranieri juga meraih trofi Piala Intertoto dan Piala Super Eropa. Jadi, fans Leicester harusnya tak perlu terlalu khawatir tentang nasib tim kesayangan mereka di kompetisi paling elite di Eropa pada musim depan.

Yang patut dinantikan adalah bagaimana kinerja Leicester di bursa transfer musim panas ini. Dengan lolos ke Liga Champions, mereka butuh kedalaman skuat yang jauh lebih baik, sesuatu yang belum dimiliki oleh Leicester pada musim ini. Mereka harus merekrut pemain-pemain baru untuk memperkuat tim. Dengan jadwal pertandingan yang makin padat dan kemungkinan laga tandang ke berbagai penjuru Eropa, Ranieri akan lebih sering melakukan rotasi.

Selain itu, penting bagi Leicester untuk mempertahankan pemain-pemain pilar mereka. Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N'Golo Kante, Danny Drinkwater, bahkan Wes Morgan dan Christian Fuchs harus diamankan dari godaan tim-tim besar. Hal ini bukanlah pekerjaan mudah untuk klub seperti Leicester.

 Mulai musim depan, suporter Leicester akan merasakan atmosfer yang berbeda di King Power Stadium. Mereka untuk pertama kalinya akan mendengarkan anthem Liga Champions diputar di stadion kebanggaan mereka. Dan untuk pertama kalinya juga, bintang-bintang top dunia semacam Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi mungkin saja menginjakkan kakinya di sana.

"Anda membayangkan datang untuk melihat Barcelona. Fans kami untuk pertama kalinya akan menonton pemain-pemain Barcelona. Messi, Neymar. Luar biasa," kata Ranieri soal ini.

Jika bisa berbicara banyak di Liga Champions musim depan dan secara konsisten lolos ke kompetisi tersebut tiap musimnya, Leicester mungkin sudah menemukan habitat baru mereka, yaitu di kompetisi elite Eropa. Akan tetapi, jika prestasi mereka musim ini ternyata hanya sebuah sensasi semusim, Leicester tampaknya harus membuatkan patung untuk Ranieri agar pencapaian langka ini bisa dikenang sepanjang masa.

Leicester akan ambil bagian dalam International Champions Cup pada musim panas ini. Meski bukan kompetisi resmi, ajang ini sedikit banyak penting untuk mengukur kesiapan mereka sebelum terjun ke Liga Champions. Ajang ini bisa menjadi semacam pre-test sebelum mereka tampil di arena yang sesungguhnya.

Tiga lawan sudah menunggu di ajang tersebut. Celtic di Glasgow, Paris Saint-Germain di Los Angeles, dan yang terakhir Barcelona di Stockholm. Menarik, bukan?

Jumat, 10 Juli 2015

YANIS

Sore itu jam 17.49 wib menjelang berbuka puasa, saya mampir di sebuah warung bambu yang berada pada ujung jalan yang terdapat makam di depan pintu masuk gang ! Aku bertanya pada Ibu pemilik warung : "Bu, ini kampung apa ?", lalu si Ibu menjawab : "Ini Encle"

Setelah berbuka puasa di warung itu, aku langsung beranjak ke Mushola tuk tunaikan shalat Maghrib. Dan setelah selesai beribadah, aku kembali ke warung itu dengan maksud membayar makanan yang tadi aku santap saat berbuka. Namun, kini yang menjaga warung itu bukanlah si Ibu tersebut, tapi seorang wanita cantik yang memiliki tahi alat kecil tepat dihidungnya yang kurang mancung, mungkin itu anaknya. Wajahnya cantik dan berhijab, mungkin dia baru saja selesai shalat Maghrib dan mengantikan Ibunya menjaga warung. "Mba, Ibunya kemana yah ? saya mau bayar" tanya saya sambil malu-malu. "Oh,,, Mas tadi makan apa saja ?" jawab si wanita itu. "Nasi, Ikan Asin, Oreg Tempe dan Krupuk, jadi semuanya berapa, mba?" tanyaku. "Semuanya jadi 15.000" jawab dia dengan suaranya yang agak serak. Bergegas langsung ku persiapkan uang yang tersimpan di dompet. "Ini, Mba" sahutku sambil mengarahkan uang 20.000 ke arahnya. "Ini Mas kembaliannya . . " ucap dia sambil memberiku uang 5.000-an. "Terimakasih" sahutku.

Selang 1 menit kami bertransaksi, tiba-tiba muncul dari balik pintu seorang Ibu yang tadi menyuguhkan aku makanan. Dan beliau pun bertanya : "Mas, sudah selesai makannya ?". "Sudah, Bu" jawabku. Dan beliau pun kembali menyahut : "Sudah Mas, tidak usah bayar, anggap saja itu sebagai tanda terimakasih saya pada Mas". "Wah . . . tidak bisa Bu !!! saya tetap harus bayar " sahutku sambil melirik ke arah mata si wanita tadi. Kemudian si wanita tersebut lekas memberikan uang 20.000-an ke si Ibu. "Ini Bu, uangnya !!" ucap si wanita itu. "Ah, kamu Yanis, kamu tidak tau, kalau Mas ini tadi sudah menolong Ibu ?! Dan Mas ini juga tadi yang mengantarkan Ibu pulang ", sahut si Ibu dengan nada yang sedikit tinggi. "Sudah Bu, tidak apa-apa", ucapku dengan maksud merelai percakapan mereka. "Terimakasih ya Bu, Assalamualaikum . . ." sambungku.

Dan waktu terus bergulir, aku lekas membalikkan badan dan pergi. Terdengar olehku jawaban "Waalaikumsalam" dari arah belakang. "Permisi Bu" pamitku sambil menganggukkan kepala.

Dalam perjalanan, mengapa aku terbayangkan wajah Yanis, "Subhanallah, Yanis memang cantik" bisikku dalam hati. Semoga kelak kita bertemu lagi.

Dua hari kemudian, aku kembali mendapat tugas mencari orderan ke daerah Sukawali. Sebuah desa yang berada di ujung Utara Kecamatan Pakuhaji. Saat itu aku tiba jam 15.47, waktu dimana orang-orang pulang bekerja dan bersantai-santai di rumah. Aku berinisiatif untuk sedikit me-refresh otak dengan bersantai sejenak setelah selesai mendapat nanti. Tapi aku belum tau, dimana tempat yang asyik di sini.

Jam 16.34. Setelah semua pekerjaanku selesai, aku segera keluar dari ruko tempat aku mengirim barang. Sore ini angin amat sejuk dan lumayan kencang, maklumlah, ini daerah pesisir. Ketika berada di jalan raya, tampak terlihat banyak remaja asyik berboncengan ke arah kanan persimpangan setelah melewati jalan menurun dari arah jembatan. Di belakang mereka pun ada Ibu-Ibu yang sedang membonceng dua anaknya ke arah yang sama. "Ah, aku ikuti saja mereka" ucapku dalam hati.

Setelah memasuki wilayah itu, serentak ku cium bebauan ikan, hmmm.... aromanya sangat menusuk hidung. Rupanya ini adalah tempat pelelangan ikan. Namun dalam hati masih bertanya "Dimana ujung jalan ini ?". Kemudian, terpampang kalimat penegas di pintu masuk "SELAMAT DATANG DI DERMAGA BARO". Banyak perahu-perahu milik nelayan yang berlabuh, dan dermaga ini pun menjadi jalur alternative ke pulau Tidung. Tempatnya memang sedikit kotor namun banyak orang yang menghabiskan waktu sorenya disini, dari yang berpuasa dan bahkan yang tidak berpuasa sekalipun. Mungkin aku salah tempat untuk dikunjungi, tapi tak apa, terlanjur.

Segudang masalah seolah tumpah setelah tertiup hembusan angin laut. Tapi aku tak berani melihat air pinggiran pantai yang kotor, saat itu airnya sedang surut, jadi sampah-sampah yang terkubur lumpur pun nyata terlihat.

Semakin jauh memandang semakin lama aku menghabiskan waktu di dermaga. Tak sadar ternyata jam tangan sudah menunjukkan jam 17.14, apa cukup waktu sesempit itu mengantarkan aku sampai rumah sebelum Adzan Maghrib. Karena jarak tempuh dari sini ke Pasar Kemis cukup jauh. Sudahlah, daripada mengeluh lebih baik aku jalani saja.

Ketika aku tengah siap beranjak dari pinggiran dermaga, terlihat dari kejauhan di dekat toilet yang tak terpakai sosok wanita berhijab merah marun, cantik sekali dan sepertinya aku pun pernah melihat wajah wanita itu. "Tapi dimana ? Lupa !". Ku coba mendekat dan mata ku tidak berbohong karena aku memang pernah melihat wanita itu. Ku garuk kepala dengan maksud mengingat wanita itu, tapi akhirnya tetap saja, aku memang lupa.

Sepertinya dia mulai curiga karena dari tadi aku terus menatap ke arahnya, dan dia pun mulai memperhatikan gelagat ku. Tapi tak di sangka, dia malah melempar senyum, manis sekali. Respon positif darinya tak akan ku sia-siakan, seolah ada panggilan yang tak terdengar darinya yang menyuruhku untuk menghampirinya yang tengah sendiri berdiri di dekat tiang. Dengan sedikit malu dan berat kaki melangkah, akhirnya aku tiba juga dihadapannya.

Canggung, malu dan gugup melebur jadi satu dalam diri. Dalam lamunan berbisik : "Subhanallah, cantik sekali". Sejenak angan ku pudar ketika dia bertanya ragu : "Mas itu bukannya yang dulu pernah buka puasa di rumah kan ?". "Iya" jawabku. Ternyata dia yang dulu pernah aku temui usai shalat Maghrib di warung Ibunya. Dia masih cantik seperti dulu dan kalau tidak salah namanya Yanis. "Kamu Yanis kan ?" tanyaku dengan bermaksud menegaskan anggapanku. "Iya,,, Mas sedang apa disini ?" tanya Yanis padaku dan dilanjutkan dengan pertanyaannya. "Ngebuburit ?" jawabku dan aku pun kembali bertanya : "Kalau kamu?"

Yanis belum menjawab pertanyaanku tapi dia seperti panik setelah dia melihat ponsel. "Mas, maafnya sudah sore, aku harus pulang,,,, kakak mana sih ?!" ucap dia sambil menegok kanan kiri.

Saat ini Yanis sudah ada dibelakang punggungku, duduk nyaman dalam boncengan motorku. Aku memutuskan untuk mengantarnya pulang, karena kakaknya malah pergi dengan teman-temannya ketika di dermaga. Tak tega aku membiarkan Yanis ditinggal sendiri meski pada senja itu aku berniat untuk pulang.

Setibanya di rumah Yanis, terlihat Ibunya sedang berada di warung. Namun kali ini ada dua orang yang sedang menunggu warung, dan yang satu mungkin itu Ayahnya Yanis. " Assalamualikum" ucapku. "Waalaikumsalam" serentak mereka berdua menjawab salamku. Ku jabat dan ku cium tangan mereka, tanda rasa sopan dan menghormati yang lebih tua. Meski pun aku belum terlalu jauh mengenal mereka.

"Kakak kamu kemana Yanis? Bukankah tadi kamu berangkat berdua ?" tanya ayahnya pada Yanis. "Tidak tau, Ayah ! Yanis ditinggal sendirian di Baro" jawab Yanis dengan nada agak kesal. Disela percakapan mereka berdua, Ibunya menyuruhku masuk dan mempersilahkan aku duduk, tapi aku lebih memilih duduk di bangku depan warung saja, karena saat itu anginnya bertiup sepoy dan menyejukkan aku yang belum mandi.

"Mas ini siapa ?" spontan Ayahnya yang berkumis agak tebal bertanya  padaku. "Saya Reno, Pak !" jawabku. Lalu Ibunya memotong obrolan kami, " Itu, Pak ! yang dulu Ibu cerita, yang tempo hari menolong Ibu". "Ooooh . . . ." sahut Ayahnya. " Sebentar lagi Maghrib, kamu buka puasa disini saja", tawar Ayahnya sambil menepuk-nepuk pelan pundakku.

Isi kepala bergejolak bahwa aku benar-benar ingin pulang. Tak apalah meskipun aku harus buka puasa di jalan, asalkan aku tidak berbuka puasa disini. Namun aku kalah, setelah terdengar lantunan Adzan Maghrib. "Sudaaaah,,,, jangan cuma dilihat, tapi dimakan juga makanannya" sindir Ayahnya padaku.

"Kamu kerja dimana ?" tanya Ayahnya padaku. "Saya Sales, Pak ! Saya menawarkan minuman dingin ke ruko dan warung-warung" tegasku. Yanis dan kedua orang tuanya amat serius menyimak jawaban-jawaban yang aku lontarkan. Kami terlalu banyak mengobrol, sampai lupa bahwa aku belum shalat Maghrib.

Aku pamit pulang pada Pak Hujaeni dan Ibu Fadillah setelah sembahyang Magrib, tapi saat itu aku belum melihat wajah Yanis. "Mungkin dia sedang shalat" pikirku. "Terimakasih yah Pak, Bu, permisi, saya pamit pulang ! Assalamualaikum" lanjutku. "Waalaikumsalam" jawab mereka berdua.

Sesampainya di rumahku di Sindangsari, ku lepas semua pakaian yang sudah kumal dan lekas pergi mandi. Aku memang melewatkan shalat Tarawih tapi tidak aku melewatkan shalat Isya, meskipun di tunaikan tanpa berjamaah. Malam itu di luar rumah terdengar cukup ramai, banyak gelak tawa anak kecil dan bocah yang tengah asyik kegirangan bermain kembang api dan petasan.

Jam 21.00 tepat, ku cek ulang semua hasil kerjaan dan juga jumlah orderan tadi siang. Hanya untuk jaga-jaga supaya tidak ada kesalahan. Belum selesai periksa data dan berkas, ponsel ku berdering tanda ada pesan baru datang. Tampaknya pesan itu berasal dari nomor baru dan berisi pesan :
"Kak, ini Yanis ! Amanat dari Ibu, besok siang Kakak mampir ke warung, Ibu mau order !" setelah selesai membaca, aku malah tersenyum-senyum sendiri.

"In sha Allah, besok Kakak mampir !" balasku pada pesannya. Tanpa berpikir panjang, langsung ku save nomor ponselnya, dalam hati berujar "Alhamdulillah, dapat lagi satu customer . . . ". Tuhan selalu memberi rezeki kepada seseorang tanpa pandang bulu, namun beberapa orang malah lupa dan kufur. Tuhan yang maha Pemberi memberikan sesuatu yang dibutuhkan hambanya tapi bukanlah yang diinginkan hambanya.

Siang hari ketika memasuki puasa ke-17 bulan Ramadhan, langit terlihat sangat terik dan sinarnya seolah membakar kulit, panas sekali. Saat itu aku berada di daerah Teluk Naga. Tepatnya tengah berada di warung agen Pak Tejo, beliau memang langganan ku. Beliau tidak pernah komplain atau pun protes jika barang pesanan telat datang. Telat dalam artian mengulur dari waktu yang telah aku janjikan, karena aku hanya pencatat orderan customer bukan merangkap sekaligus sebagai pengantar barang. Karena itu beda bagian dengan pekerjaanku.

Ketika masih di warung agen Pak Tejo terdengar dering ponsel dari dalam tas. Dan aku kerap sekali menghiraukan panggilan masuk ketika aku sedang berhadapan dengan customer, karena biasanya di saat-saat seperti ini Supervisor-ku selalu menelpon. Karena dia kerap memarahiku dengan alasan yang tidak jelas, dia itu seperti tidak punya kerjaan lain selain memarahiku.

Namun panggilan masuk tadi bukanlah berasal dari Supervisor atau customer yang lain, dan ternyata panggilan itu berasal dari kontak bernama Yanis. Sudah ada empat panggilan tak terjawab yang tercatat di ponsel. Jika itu berasal dari Yanis, mungkin aku bisa langsung menjawab panggilan teleponnya. Namun aku beranggapan lain, aku mengira itu dari Supervisor. Refleks, aku langsung pergi mengejar customer baruku ini, karena menjelang Lebaran, aku pun perlu uang insentif lebih.

Ketika sampai di depan SMPN 3 yang berada di jalan menuju ke rumah Yanis, aku teringat pada satu customer yang tadi aku lewati di Kalibaru. Aku terburu-buru karena demi mengejar satu customer baru dan mengabaikan satu customer lama. "Ah Sudahlah, nanti saja aku datangi setelah pulang dari rumah Yanis" gumamku di perjalanan. Tapi tetap saja, hati ini seolah memikul satu beban.

Setibanya di depan gang menuju rumah Yanis, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang belum aku rasa jika menghadapi customer baru. Biasanya aku selalu percaya diri namun untuk kali ini, aku seperti akan menjumpai ribuan orang dan aku akan berdiri berorasi di depan mereka. Padahal yang akan aku temui hanyalah Ibu Fadillah dan Yanis. Dua sosok yang pernah aku temui sebelumnya. Gemetar, iya aku merasakan tubuhku bergemetaran. "Ayo Reno !!! Kamu bisa !"

Setelah selesai menempuh rasa ketidakpercayaan diri, akhirnya, aku paksakan melangkah menuju di depan Warung Ibu Fadillah. Yapz,,, seorang yang ada di warung bukanlah Ibu Fadillah, tapi Yanis. Mendadak, gelora api semangat membakar rasa kegugupan yang tadi melanda. "Assalamualaikum" ku ucap tanpa ragu. dan Yanis pun langsung menjawab salam ku di ikuti sebuah pertanyaan : " Waalaikumsalam, Kak ! Mengapa tadi Yanis telepon tidak Kakak jawab?". "Oh, tadi Kakak sedang bersama customer" jawabku. "Terus Ibunya dimana ?" tanyaku. "Ibu pergi sama Bapak, Kakak disuruh menunggu sebentar, karena Ibu tidak akan pergi lama" jawab Yanis. "Wah repot juga !" sahutku dengan nada minor. "Mengapa repot?" tanya Yanis yang ternyata mendengar ucapanku. "Yanis kerja dimana ?" tanyaku dengan maksud mengalihkan pembicaraan. "Di Broco" jawabnya. "Mengapa bisa? kan jauh. Bukannya orang sini itu lebih dominan kerja di Salembaran ?" tanyaku seolah tak percaya. "Terus, kenapa sekarang tidak kerja?" tanyaku lagi. "Sekarang Yanis sif 3 Kak" jawab Yanis sambil mengacungkan tiga jariya. "Yanis berangkat sendiri?" tanyaku kembali. "Kalau kerja pagi biasanya Yanis berangkat sendiri, sif 2 dan sif 3 diantar jemput sama Kakak" jawab Yanis dengan tegasnya.

Sampai 10 menit kami bercakap-cakap, tibalah orang yang aku tunggu, Ibu Fadillah. Ku ucapkan Assalamualaikum sambil mencium tangan Ayah dan Ibunya yang baru saja datang. "Eh Reno, sudah lama?" tanya Ayahnya padaku. "Belum Pak, baru saja saya datang" jawabku. "Ini, Reno ! Ibu mau order, semua daftarnya ada disini, bisa kan ?" ucap Ibu Fadillah sambil memberikanku secarik kertas yang dia ambil dari laci meja warung.

Aku raih kertas itu dan dengan segera mencatat orderan yang ada di daftar. Cukup banyak yang diorder, mungkin Ibu Fadillah akan membuat stok menjelang Lebaran. Mereka bertiga hanya memandangi cara aku kerja. Sebuah pekerjaan yang simpel tapi butuh tanggung jawab yang besar. "Jadi, besok Ibu tunggu di rumah, nanti akan datang driver kami yang akan mengantarkan orderan Ibu. Ingat yah Bu, jangan beri mereka sepeser pun jika mereka minta upah. Tapi jika mereka memaksa, tolong Ibu catat plat nomor mobilnya, agar nanti saya bisa tindak lanjuti ke atasan saya".

Aku bergegas menuju pulang setelah Ibu Fadillah memberikan ku uang orderannya. Pamit pada mereka bertiga sambil ucap terimakasih. Hari ini mungkin sudah cukup untuk berada di rumah Yanis, aku tak mau lagi berlama-lama di rumahnya. Karena aku takut merepotkan. Sedangkan aku pun masih punya satu customer yang belum aku datangi di Kalibaru. Meski pun aku harus melewati lagi jalan yang tadi aku lalui, tapi inilah resiko perkerjaanku sebagai Sales.

Cara ku mengirim laporan hasil kerja memang praktis, hanya cukup mengirim inputan via email ke Supervisor. Jadi aku tak perlu balik lagi ke kantor pusat. Jika semua warung atau ruko yang menjadi garapanku telah semua aku kunjungi. Aku bisa langsung pulang meski hari masih siang dan panjang. Namun sialnya jika aku benar-benar terjepit dikejar-kejar oleh target, aku bisa saja pulang sampai larut malam.

Tak terasa, hari menjelang Magrib. Untungnya aku sudah berada di rumah menyambut waktu berbuka puasa. Iseng-iseng aku mainkan ponsel, masih belum terhapus semua daftar panggilan masuk dan panggilan tak terjawab. Ada nama yang sepertinya lebih menantang, Yanis. Aku ingin sekali banyak tau tentangnya, namun aku tak berani menelpon.

Sebuah nama yang aku pikirkan, tiba-tiba mengirim pesan pendek : "Selamat berbuka puasa yah, Kak". Yanis muncul disaat yang tepat. Waktu dimana aku merindukannya. Namun, perasaan yang aku alami saat ini mungkin salah. Dia belum tau tentang statusku yang telah memiliki istri dan satu putra. "Apa aku harus menjawab jujur jika suatu waktu dia bertanya tentang hal itu ? Tentu saja aku berdosa jika membohongi keduanya. Tuhan, jika rindu ini salah, maka jangan temukan aku lagi dengan Yanis !" ucapku dalam hati.

BEGOVIC CHELSEA