Minggu, 13 Oktober 2013
NEVERLAND UNTUK EVAN DIMAS DAN KAWAN-KAWAN
All children, except one, grow up. Semua anak, kecuali satu, tumbuh dewasa.
Ingin rasanya bermimpi kalau anak yang dikecualikan dalam kalimat pembuka novel The Adventures of Peter Pan di atas itu adalah Evan Dimas, Ilham Udin, dan rekan-rekannya di timnas U-19. Ya, andai saja mereka bisa seperti Peter Pan yang tetap kanak, emoh jadi dewasa, enggan menjadi tua....
Peter Pan dalam khayalan pengarangnya, J.M Barrie, adalah anak-anak atau remaja yang tidak bisa sekaligus tidak sudi tumbuh menjadi dewasa. Dia tak menyukai gagasan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Mood-nya bisa langsung hilang dan dengan itu dia bisa kehilangan kekuatannya jika sudah dibayang-bayangi konsep kedewasaan.
Akan halnya karakter Pangeran Kecil dalam novel dengan judul yang sama karya Antoine de Saint-Exupery, Peter Pan boleh dibilang jadi wakil dunia anak-anak sebagai simbol semangat bermain yang tulus, hasrat bersenang-senang yang masih murni, juga naluri bertualang yang mungkin tanpa pretensi.
Peter Pan dan Pangeran Kecil menertawakan kepercayaan kalau orang dewasa adalah puncak kematangan manusia. Bagi keduanya, orang dewasa hanyalah mereka yang sok lebih bijak, sok lebih tahu, sok lebih matang. Dibandingkan anak-anak, setidaknya bagi Peter Pan dan Pangeran Kecil, orang dewasa hanya lebih mahir berpura-pura.
Pangeran Kecil mengartikulasikan hal itu dengan kalimat ringkas yang bersayap: "Dasar kalian orang dewasa!"
Saya ingat keduanya, khususnya Peter Pan, terutama karena ingatan saya tentang sepakbola Indonesia memang kadung dibayangi oleh berbagai hal suram, gelap dan menyedihkan. Agak "ngeri-ngeri sedap" membayangkan timnas U-19 ini akhirnya akan masuk untuk kemudian terhisap oleh sistem sepakbola nasional yang korup, penuh kongkalikong, sarat politisasi, dan dikelola oleh pengurus yang inkompeten.
Tidak perlu terlalu banyak dibahas lagi paradoks sepakbola Indonesia yang penuh prestasi di level usia dini tapi tak bergema apa-apa di level senior. Tak terbilang kita punya anak-anak dan remaja berbakat tapi seperti menguap begitu saja setelah mereka beranjak dewasa. Bukan hal istimewa jika dulu kita bisa menjuarai Piala Pelajar Asia.
Tapi sulit benar mengkonversi trofi di usia muda itu jadi piala di masa dewasa. Di tahun 1990an, kita punya remaja-remaja penuh harapan seperti Kurniawan, Bima Sakti, Anang Ma'ruf, Asep Dayat, Aples Tecuari, dkk. Kita semua tahu, kerlip cahaya yang berpendaran di kaki-kaki remaja itu makin lama makin redup seiring mereka beranjak dewasa.
Dalam hal sepakbola Indonesia, setidaknya bertahun-tahun lamanya, usia dewasa lebih sering identik dengan kerusuhan, penganiayan pada wasit, perkelahian antarpemain, tekel-tekel horor, isu suap, skandal dengan artis, kasak-kusuk dunia malam, juga kooptasi oleh para politisi. Makin dewasa, kok ya makin tak sedap rasanya.
Dewasa tak identik dengan kematangan -- setidaknya dalam hal sepakbola Indonesia. Atau, barangkali, memang seperti itulah sebenarnya dunia orang dewasa. Toh "matang" memang sedepa saja jaraknya dengan "busuk".
Maka, bolehlah kiranya sesekali kita berandai-andai: Evan Dimas dkk., tak akan pernah beranjak dewasa. Biarlah mereka tetap di usianya yang 17-18 tahun seperti sekarang.
Senang rasanya membayangkan mereka ini tak kenal rasa takut. Evan Dimas, misalnya, mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tak bisa dikalahkan. Mereka yang malang melintang mengamati sepakbola Indonesia mungkin bisa merasakan, pernyataan itu bukanlah ekspresi takabur, melainkan pernyataan percaya pada kekuatan diri sendiri.
Kepercayaan diri itu terlihat benar saat mereka di lapangan hijau. Evan Dimas tampak "sombong" dengan bola di kakinya, mengingatkan saya pada ekspresi angkuh Peter Pan saat meloncat ke singgasananya yang dikerubuti teman-teman kecilnya.
Ketika Evan Dimas berkata bahwa "semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan", saya yang sudah "dewasa" ini mudah saja bilang: Kau, toh, tak bisa megalahkan Brasil!
Tapi anak-anak memang akrab dengan kalimat-kalimat yang bernada tidak realistis. Realisme bukanlah dunia anak-anak. Realisme adalah jagatnya orang dewasa yang sudah mahir berhitung laba-rugi dan kian pandai mengukur kekuatan dan kelemahan. Anak-anak adalah sahabatnya fantasi, karibnya khayalan dan imajinasi. Mereka kadang tidak tahu batas, bukan karena mereka tak tahu diri, tapi karena fantasi dan imajinasi memang sangat mungkin tak memiliki batas.
Dan dengan itulah Peter Pan berbahagia dan akhirnya bisa terbang.
Dalam khayalan J.M. Barrie, kemampuan terbang Peter Pan disebut sebagai akibat dari "debu peri". Tapi kemampuan terbang itu juga mensyaratkan satu hal: Peter Pan harus berbahagia. Jika pikirannya kusut, mulai rumit dan gelisah, kian canggih dan sophisticated, maka Peter Pan bisa tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk terbang.
Maka bagi saya, salah satu prasyarat agar Evan Dimas, dkk., bisa terus terbang tinggi adalah mereka harus berbahagia. Pikiran mereka mesti jauh dari kebencian, kedengkian, kesombongan, juga pretensi yang tak perlu. Seperti halnya Peter Pan dan Pangeran Kecil, mereka hanya perlu memikirkan satu hal: bermain-main dan bersenang-senang.
Jika Peter Pan bermain dan bersenang-senang di Neverland, Zulfiandi dkk., bermain dan bersenang-senang di lapangan bola.
Di negeri yang mudah gaduh ini, nyaris mustahil memang membayangkan kita bisa "menyediakan" negeri seperti Neverland bagi Evan Dimas, dkk. Neverland itu sudah pasti bukan liga domestik yang masih carut marut. Neverland itu juga hampir pasti bukan talkshow-talkshow di televisi, apalagi rumah para politisi yang mungkin sudah mulai mengincar Evan Dimas, dkk., untuk makan pagi di rumahnya.
Yang bisa kita lakukan, paling tidak, adalah melupakan timnas U-19 dan Indra Sjafri seakan-akan mereka itu tidak ada. Jika memang tak bisa menyediakan tempat ideal sebagaimana Neverland bagi Peter Pan, maka lebih baik lupakan saja mereka. Anggap mereka tak ada. Anggap mereka remeh temeh dan bukan siapa-siapa.
Dengan itu, mungkin, mereka bisa mendapatkan ketenangan yang dibutuhkan sekaligus keheningan yang diperlukan. Dan di dalam ketenangan dan keheningan yang jauh dari riuh-rendah publikasi itu, Indra Sjafri bisa terus blusukan mencari pemain dan para pemain bisa tetap berlatih tanpa diberi beban dan pengharapan yang berlebihan.
Dengan kembali menoleh pada cerita J.M. Barrie, tak ada salahnya mencamkan ini kembali: Peter Pan tak bisa terbang saat pikirannya kusut, bad mood, dan penuh dengan beban.
Sssstttt, jangan kasih tahu Evan Dimas soal tulisan ini, ya. Saya cemas dia akan berkata: "Dasar kamu orang dewasa!"
Ingin rasanya bermimpi kalau anak yang dikecualikan dalam kalimat pembuka novel The Adventures of Peter Pan di atas itu adalah Evan Dimas, Ilham Udin, dan rekan-rekannya di timnas U-19. Ya, andai saja mereka bisa seperti Peter Pan yang tetap kanak, emoh jadi dewasa, enggan menjadi tua....
Peter Pan dalam khayalan pengarangnya, J.M Barrie, adalah anak-anak atau remaja yang tidak bisa sekaligus tidak sudi tumbuh menjadi dewasa. Dia tak menyukai gagasan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Mood-nya bisa langsung hilang dan dengan itu dia bisa kehilangan kekuatannya jika sudah dibayang-bayangi konsep kedewasaan.
Akan halnya karakter Pangeran Kecil dalam novel dengan judul yang sama karya Antoine de Saint-Exupery, Peter Pan boleh dibilang jadi wakil dunia anak-anak sebagai simbol semangat bermain yang tulus, hasrat bersenang-senang yang masih murni, juga naluri bertualang yang mungkin tanpa pretensi.
Peter Pan dan Pangeran Kecil menertawakan kepercayaan kalau orang dewasa adalah puncak kematangan manusia. Bagi keduanya, orang dewasa hanyalah mereka yang sok lebih bijak, sok lebih tahu, sok lebih matang. Dibandingkan anak-anak, setidaknya bagi Peter Pan dan Pangeran Kecil, orang dewasa hanya lebih mahir berpura-pura.
Pangeran Kecil mengartikulasikan hal itu dengan kalimat ringkas yang bersayap: "Dasar kalian orang dewasa!"
Saya ingat keduanya, khususnya Peter Pan, terutama karena ingatan saya tentang sepakbola Indonesia memang kadung dibayangi oleh berbagai hal suram, gelap dan menyedihkan. Agak "ngeri-ngeri sedap" membayangkan timnas U-19 ini akhirnya akan masuk untuk kemudian terhisap oleh sistem sepakbola nasional yang korup, penuh kongkalikong, sarat politisasi, dan dikelola oleh pengurus yang inkompeten.
Tidak perlu terlalu banyak dibahas lagi paradoks sepakbola Indonesia yang penuh prestasi di level usia dini tapi tak bergema apa-apa di level senior. Tak terbilang kita punya anak-anak dan remaja berbakat tapi seperti menguap begitu saja setelah mereka beranjak dewasa. Bukan hal istimewa jika dulu kita bisa menjuarai Piala Pelajar Asia.
Tapi sulit benar mengkonversi trofi di usia muda itu jadi piala di masa dewasa. Di tahun 1990an, kita punya remaja-remaja penuh harapan seperti Kurniawan, Bima Sakti, Anang Ma'ruf, Asep Dayat, Aples Tecuari, dkk. Kita semua tahu, kerlip cahaya yang berpendaran di kaki-kaki remaja itu makin lama makin redup seiring mereka beranjak dewasa.
Dalam hal sepakbola Indonesia, setidaknya bertahun-tahun lamanya, usia dewasa lebih sering identik dengan kerusuhan, penganiayan pada wasit, perkelahian antarpemain, tekel-tekel horor, isu suap, skandal dengan artis, kasak-kusuk dunia malam, juga kooptasi oleh para politisi. Makin dewasa, kok ya makin tak sedap rasanya.
Dewasa tak identik dengan kematangan -- setidaknya dalam hal sepakbola Indonesia. Atau, barangkali, memang seperti itulah sebenarnya dunia orang dewasa. Toh "matang" memang sedepa saja jaraknya dengan "busuk".
Maka, bolehlah kiranya sesekali kita berandai-andai: Evan Dimas dkk., tak akan pernah beranjak dewasa. Biarlah mereka tetap di usianya yang 17-18 tahun seperti sekarang.
Senang rasanya membayangkan mereka ini tak kenal rasa takut. Evan Dimas, misalnya, mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tak bisa dikalahkan. Mereka yang malang melintang mengamati sepakbola Indonesia mungkin bisa merasakan, pernyataan itu bukanlah ekspresi takabur, melainkan pernyataan percaya pada kekuatan diri sendiri.
Kepercayaan diri itu terlihat benar saat mereka di lapangan hijau. Evan Dimas tampak "sombong" dengan bola di kakinya, mengingatkan saya pada ekspresi angkuh Peter Pan saat meloncat ke singgasananya yang dikerubuti teman-teman kecilnya.
Ketika Evan Dimas berkata bahwa "semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan", saya yang sudah "dewasa" ini mudah saja bilang: Kau, toh, tak bisa megalahkan Brasil!
Tapi anak-anak memang akrab dengan kalimat-kalimat yang bernada tidak realistis. Realisme bukanlah dunia anak-anak. Realisme adalah jagatnya orang dewasa yang sudah mahir berhitung laba-rugi dan kian pandai mengukur kekuatan dan kelemahan. Anak-anak adalah sahabatnya fantasi, karibnya khayalan dan imajinasi. Mereka kadang tidak tahu batas, bukan karena mereka tak tahu diri, tapi karena fantasi dan imajinasi memang sangat mungkin tak memiliki batas.
Dan dengan itulah Peter Pan berbahagia dan akhirnya bisa terbang.
Dalam khayalan J.M. Barrie, kemampuan terbang Peter Pan disebut sebagai akibat dari "debu peri". Tapi kemampuan terbang itu juga mensyaratkan satu hal: Peter Pan harus berbahagia. Jika pikirannya kusut, mulai rumit dan gelisah, kian canggih dan sophisticated, maka Peter Pan bisa tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk terbang.
Maka bagi saya, salah satu prasyarat agar Evan Dimas, dkk., bisa terus terbang tinggi adalah mereka harus berbahagia. Pikiran mereka mesti jauh dari kebencian, kedengkian, kesombongan, juga pretensi yang tak perlu. Seperti halnya Peter Pan dan Pangeran Kecil, mereka hanya perlu memikirkan satu hal: bermain-main dan bersenang-senang.
Jika Peter Pan bermain dan bersenang-senang di Neverland, Zulfiandi dkk., bermain dan bersenang-senang di lapangan bola.
Di negeri yang mudah gaduh ini, nyaris mustahil memang membayangkan kita bisa "menyediakan" negeri seperti Neverland bagi Evan Dimas, dkk. Neverland itu sudah pasti bukan liga domestik yang masih carut marut. Neverland itu juga hampir pasti bukan talkshow-talkshow di televisi, apalagi rumah para politisi yang mungkin sudah mulai mengincar Evan Dimas, dkk., untuk makan pagi di rumahnya.
Yang bisa kita lakukan, paling tidak, adalah melupakan timnas U-19 dan Indra Sjafri seakan-akan mereka itu tidak ada. Jika memang tak bisa menyediakan tempat ideal sebagaimana Neverland bagi Peter Pan, maka lebih baik lupakan saja mereka. Anggap mereka tak ada. Anggap mereka remeh temeh dan bukan siapa-siapa.
Dengan itu, mungkin, mereka bisa mendapatkan ketenangan yang dibutuhkan sekaligus keheningan yang diperlukan. Dan di dalam ketenangan dan keheningan yang jauh dari riuh-rendah publikasi itu, Indra Sjafri bisa terus blusukan mencari pemain dan para pemain bisa tetap berlatih tanpa diberi beban dan pengharapan yang berlebihan.
Dengan kembali menoleh pada cerita J.M. Barrie, tak ada salahnya mencamkan ini kembali: Peter Pan tak bisa terbang saat pikirannya kusut, bad mood, dan penuh dengan beban.
Sssstttt, jangan kasih tahu Evan Dimas soal tulisan ini, ya. Saya cemas dia akan berkata: "Dasar kamu orang dewasa!"
Sabtu, 12 Oktober 2013
Kamis, 10 Oktober 2013
Rabu, 09 Oktober 2013
Senin, 07 Oktober 2013
7 FAKTA DI BALIK IPO TWITTER
Terkait dengan initial public offering (IPO) Twitter, ada beberapa hal
yang perlu diketahui. Misalnya, jejaring sosial ini hanya mampu
menampung 140 karakter huruf dalam tweet-nya.
Secara lengkap, berikut ini 20 fakta di balik IPO Twitter seperti dilansir dari Forbes, Minggu (6/10/2013).
1. Apa dan siapaTwitter pertamakali didirikan pada tanggal 21 Maret tahun 2006 oleh Jack Dorsey, Evan Williams, Noah Glass dan Biz Stone. Awalnya, Dorsey mengirim tweet sebanyak 24 karakter untuk mengumumkan layanan ini.
Perusahaan ini pertama kali berbasis di San Francisco dan saat ini memiliki kantor di lebih dari 15 negara di seluruh dunia dengan Dick Costolo sebagai CEO dan Dorsey sebagai chairman.
2. Ticker
Saham Twitter memiliki ticker TWTR.
3. Misi
"Twitter adalah sebuah platform global untuk khalayak umum mengekspresikan diri dan melakukan percakapan secara real time. Dengan mengembangkan cara baru bagi orang untuk mengeluarkan pernyataan, mendistribusikan dan menemukan konten, Twitter telah mendemokratisasi pembuatan konten dan distribusi. Hal ini yang memungkinkan setiap suara sampai seluruh dunia langsung dan tanpa filter".
4. Penggalangan dana
Perusahaan berharap nilai IPO ini mencapai USD10 miliar. Dana ini akan digunakan untuk keperluan umum, termasuk modal kerja, biaya operasi dan belanja modal. Selain itu, uang tersebut juga untuk menutupi pemotongan pajak dan biaya lainnya yang berhubungan dengan IPO. Sisanya, hasil bersih tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi bisnis, produk, jasa atau teknologi.
5. Valuasi
Pada tanggal 30 Juni 2013, ada 472.613.753 lembar saham Twitter yang dimiliki oleh 704 pemegang saham, dan tidak ada saham saham preferen yang beredar. Nilai saham wajar per 5 Agustus mencapai SUD20,62 per saham, alhasil total nilainya mencapai USD9,74 miliar.
6. UsersTwitter mengatakan memiliki lebih dari 215 juta pengguna aktif bulanan dan lebih dari 100 juta pengguna aktif harian. Mereka mengirimkan lebih dari 500 juta tweet per hari. Akun palsu atau spam pun hanya mewakili kurang dari 5 persen dari pengguna aktif tersebut.
7. Kecepatan dan jangkauan.
Saat ini, telah lahir sebanyak 300 miliar tweet. "Presiden Obama menggunakan platform kami untuk menyatakan pertama kali atas kemenangannya dalam pemilihan presiden AS 2012, dengan tweet yang dilihat sekitar 25 juta kali pada platform kami dan didistribusikan secara luas secara offline dalam media cetak dan elektronik".
Secara lengkap, berikut ini 20 fakta di balik IPO Twitter seperti dilansir dari Forbes, Minggu (6/10/2013).
1. Apa dan siapaTwitter pertamakali didirikan pada tanggal 21 Maret tahun 2006 oleh Jack Dorsey, Evan Williams, Noah Glass dan Biz Stone. Awalnya, Dorsey mengirim tweet sebanyak 24 karakter untuk mengumumkan layanan ini.
Perusahaan ini pertama kali berbasis di San Francisco dan saat ini memiliki kantor di lebih dari 15 negara di seluruh dunia dengan Dick Costolo sebagai CEO dan Dorsey sebagai chairman.
2. Ticker
Saham Twitter memiliki ticker TWTR.
3. Misi
"Twitter adalah sebuah platform global untuk khalayak umum mengekspresikan diri dan melakukan percakapan secara real time. Dengan mengembangkan cara baru bagi orang untuk mengeluarkan pernyataan, mendistribusikan dan menemukan konten, Twitter telah mendemokratisasi pembuatan konten dan distribusi. Hal ini yang memungkinkan setiap suara sampai seluruh dunia langsung dan tanpa filter".
4. Penggalangan dana
Perusahaan berharap nilai IPO ini mencapai USD10 miliar. Dana ini akan digunakan untuk keperluan umum, termasuk modal kerja, biaya operasi dan belanja modal. Selain itu, uang tersebut juga untuk menutupi pemotongan pajak dan biaya lainnya yang berhubungan dengan IPO. Sisanya, hasil bersih tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi bisnis, produk, jasa atau teknologi.
5. Valuasi
Pada tanggal 30 Juni 2013, ada 472.613.753 lembar saham Twitter yang dimiliki oleh 704 pemegang saham, dan tidak ada saham saham preferen yang beredar. Nilai saham wajar per 5 Agustus mencapai SUD20,62 per saham, alhasil total nilainya mencapai USD9,74 miliar.
6. UsersTwitter mengatakan memiliki lebih dari 215 juta pengguna aktif bulanan dan lebih dari 100 juta pengguna aktif harian. Mereka mengirimkan lebih dari 500 juta tweet per hari. Akun palsu atau spam pun hanya mewakili kurang dari 5 persen dari pengguna aktif tersebut.
7. Kecepatan dan jangkauan.
Saat ini, telah lahir sebanyak 300 miliar tweet. "Presiden Obama menggunakan platform kami untuk menyatakan pertama kali atas kemenangannya dalam pemilihan presiden AS 2012, dengan tweet yang dilihat sekitar 25 juta kali pada platform kami dan didistribusikan secara luas secara offline dalam media cetak dan elektronik".
Kamis, 03 Oktober 2013
SURAT BUNUH DIRI KURT COBAIN
Sebuah surat bunuh diri ditemukan di saku jaketnya. Dalam suratnya itu Ia menulis;
"Karena ditulis oleh seorang tolol kelas berat yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah dan kekanak-kanakan. Surat ini seharusnya mudah dimengerti. Semua peringatan dari pelajaran-pelajaran punk rock selama bertahun-tahun. Setelah perkenalan pertamaku dengan, mungkin bisa dibilang, nilai-nilai yang terikat dengan kebebasan dan keberadaan komunitas kita ternyata terbukti sangat tepat. Sudah terlalu lama aku tidak lagi merasakan kesenangan dalam mendengarkan dan juga menciptakan lagu sama halnya seperti ketika aku membaca dan menulis. Tak bisa dilukiskan lagi betapa merasa bersalahnya aku atas hal-hal tersebut. Contohnya, sewaktu kita bersiap berada di belakang panggung dan lampu-lampu mulai dipadamkan dan penonton mulai berteriak histeris, hal itu tidak mempengaruhiku, layaknya Freddie Mercury, yang tampaknya menyukai, menikmati cinta dan pemujaan penonton. Sesuatu yang membuatku benar-benar kagum dan iri. Masalahnya, aku tak bisa membohongi kalian. semuanya saja. Itu tidak adil bagiku ataupun kalian. Kejahatan terbesar yang pernah kulakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan berpura-pura bahwa aku 100 persen menikmati saat-saat diatas panggung. Kadang aku merasa bahwa aku harus dipaksa untuk naik ke panggung. Dan aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menghargai paksaan itu, sungguh, Tuhan percayalah kalau aku sungguh-sungguh melakukan itu, tapi ternyata itu tidak cukup. Aku menerima kenyataan bahwa aku dan kami telah mempengaruhi dan menghibur banyak orang. Tapi, aku hanya seorang narsis yang hanya menghargai sesuatu jika sesuatu itu sudah tidak ada lagi. Aku terlalu peka. Aku butuh sedikit rasa untuk bisa merasakan kembali kesenangan yang kupunya ketika kecil. Dalam tiga tur terakhir kami, aku mempunyai penghargaan yang lebih baik terhadap orang-orang. Saking cintanya itu membuatku merasa sangat sedih. Aku adalah Jesus man, seorang pisces yang lemah, peka, tidak tahu terima kasih, dan sedih. Kenapa kamu nggak menikmatinya saja? Nggak tahu. Aku punya istri yang bagaikan dewi yang berkeringat ambisi dan empati dan seorang putri yang mengingatkanku akan diriku sendiri di masa lalu. Penuh cinta dan selalu gembira, mencium siapa saja yang dia ditemui karena menurutnya semua orang baik dan tidak akan menyakitinya. Itu membuatku ketakutan sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan Frances tumbuh menjadi roker busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan menyedihkan seperti aku sekarang. Aku bisa menerimanya dengan baik, sangat baik, dan aku bersyukur, tapi aku telah mulai membenci semua orang sejak aku berumur tujuh tahun. Hanya karena mereka terlihat begitu mudah bergaul, dan berempati. Empati! kupikir itu disebabkan karena cinta dan perasaanku yang terlalu besar pada orang-orang. Dari dasar perut mualku yang serasa terbakar, aku ucapkan terima kasih atas surat dan perhatian kalian selama ini. Aku hanyalah seorang anak yang angin-anginan dan plin-plan! Sudah tidak ada semangat yang tersisa dalam diriku. Jadi ingatlah, lebih baik terbakar habis, daripada memudar".
Langganan:
Postingan (Atom)










